Rencana pemerintah membentuk BUMN khusus tekstil sebenarnya bukan wacana baru. Demikian diungkapkan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, saat ditemui di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (19/1) lalu. Menurutnya, saat ini sudah ada BUMN di bawah Danantara yang memang diminta fokus menangani persoalan garmen dan tekstil.
"Sebetulnya bukan sesuatu yang baru ya," ujar Prasetyo.
"Karena di bawah Danantara, kita sekarang memiliki satu BUMN yang memang fokus diminta fokus untuk menangani masalah garmen, kemudian masalah tekstil, terutama yang berkaitan dengan kemarin kejadian yang menimpa PT Sritex."
Nama Sritex, raksasa tekstil yang pailit tahun lalu, memang tak bisa dipisahkan dari pembahasan ini. Prasetyo menekankan, upaya ini diharapkan bisa menyelamatkan nasib ribuan karyawan perusahaan tersebut. Jumlahnya tidak sedikit, dan dampak ekonominya cukup signifikan.
"Jadi ini sedang proses," lanjutnya.
"Kita harapkan dalam waktu dekat semua proses sudah bisa diselesaikan sehingga PT Sritex bagaimanapun kita harus selamatkan dalam artian kegiatan ekonominya tetap harus berjalan. Karena di sana kurang lebih mempekerjakan 10.000 karyawan dan cukup besar kegiatan ekonomi yang dihasilkan dari produk-produk pakaian, seragam, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor ke mancanegara."
Lalu, bagaimana dengan insentif khusus untuk sektor ini ke depannya? Prasetyo belum bisa memberikan kejelasan. Meski begitu, ia menyiratkan bahwa kemungkinan itu tetap terbuka jika memang dibutuhkan. Industri padat karya seperti tekstil dan garmen, dalam pandangannya, memang layak mendapat perhatian lebih.
"Ya nanti kita coba lihat bilamana memang diperlukan," katanya.
Wacana ini sebelumnya sudah disinggung oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Dalam sebuah kesempatan di Jakarta Selatan, Rabu (14/1), Airlangga menyebut Presiden menginginkan kehadiran kembali BUMN tekstil. Yang menarik, skemanya bukan menghidupkan perusahaan lama, melainkan membentuk entitas baru sama sekali.
"Akan membentuk BUMN baru khusus tekstil, tidak menghidupkan kembali," tegas Airlangga.
Pendanaannya tak main-main. Danantara disebutkan menyiapkan dana segar hingga 6 miliar dolar AS, atau setara Rp 101,2 triliun dengan kurs hari ini. Langkah ini juga bagian dari strategi defensif menghadapi tekanan perdagangan global, khususnya di sektor rentan seperti tekstil, sepatu, dan garmen.
"Yang di garis terdepan dalam trade tarif itu adalah yang risiko tertinggi," jelas Airlangga.
Selain itu, pemerintah dikabarkan telah menyusun peta jalan untuk mendongkrak ekspor tekstil. Targetnya ambisius: dari 4 miliar dolar AS menjadi 40 miliar dolar AS dalam kurun satu dekade. Namun, tantangannya nyata. Airlangga sendiri mengakui bahwa rantai pasok dalam negeri masih terlihat lemah dan perlu penguatan serius. Itu yang jadi fokus berikutnya.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp40.000 Jadi Rp2,88 Juta per Gram
IHSG Terperosok 0,92% di Awal Sesi, Mayoritas Sektor Tertekan
Modal Rp 1 M hingga Rp 6 M, Ini Rincian Investasi Buka SPBU Mitra Pertamina
Ketegangan AS-Iran Guncang Pasar, Indeks Saham AS Beragam di Awal Pekan