"Ya nanti kita coba lihat bilamana memang diperlukan," katanya.
Wacana ini sebelumnya sudah disinggung oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Dalam sebuah kesempatan di Jakarta Selatan, Rabu (14/1), Airlangga menyebut Presiden menginginkan kehadiran kembali BUMN tekstil. Yang menarik, skemanya bukan menghidupkan perusahaan lama, melainkan membentuk entitas baru sama sekali.
"Akan membentuk BUMN baru khusus tekstil, tidak menghidupkan kembali," tegas Airlangga.
Pendanaannya tak main-main. Danantara disebutkan menyiapkan dana segar hingga 6 miliar dolar AS, atau setara Rp 101,2 triliun dengan kurs hari ini. Langkah ini juga bagian dari strategi defensif menghadapi tekanan perdagangan global, khususnya di sektor rentan seperti tekstil, sepatu, dan garmen.
"Yang di garis terdepan dalam trade tarif itu adalah yang risiko tertinggi," jelas Airlangga.
Selain itu, pemerintah dikabarkan telah menyusun peta jalan untuk mendongkrak ekspor tekstil. Targetnya ambisius: dari 4 miliar dolar AS menjadi 40 miliar dolar AS dalam kurun satu dekade. Namun, tantangannya nyata. Airlangga sendiri mengakui bahwa rantai pasok dalam negeri masih terlihat lemah dan perlu penguatan serius. Itu yang jadi fokus berikutnya.
Artikel Terkait
Analis Prediksi IHSG Alami Tekanan Jual Jelang Akhir Pekan
OJK Perkuat Likuiditas Pasar Modal dengan Aturan Free Float dan Instrumen Baru
IHSG Menguat 1,76%, Saham KOKA dan RODA Pacu Kenaikan
IHSG Bangkit 1,76% ke 7.710, Meski Nilai Transaksi Menyusut Tajam