Kalimat itu disampaikannya di sela-sela pertemuan dengan para pemimpin bisnis di kantor asosiasi pengusaha Denmark, Dansk Industri. Nuansa yang dibawa jelas berbeda dari retorika Gedung Putih.
Menariknya, kunjungan ini hanya berselang dua hari setelah pertemuan di Washington DC yang justru berujung panas. Otoritas Kopenhagen menyebutnya mengalami “ketidaksepakatan mendasar” soal masa depan Greenland dengan pemerintahan Trump. Jadi, kedatangan delegasi bipartisan ini seperti upaya perbaikan hubungan dari jalur legislatif.
Selain bertemu dengan para pemimpin, rencananya mereka juga akan berbincang dengan anggota parlemen Denmark. Agenda padat ini menunjukkan keseriusan mereka untuk meredam polemik. Di sisi lain, langkah ini juga mengisyaratkan adanya perbedaan pandangan yang tajam antara Kongres dan Presiden mereka sendiri mengenai pendekatan diplomatik ini.
Pada akhirnya, kunjungan itu lebih dari sekadar kunjungan biasa. Ia adalah pesan. Sebuah upaya untuk meyakinkan sekutu lama bahwa hubungan bilateral yang telah dibangun puluhan tahun tidak akan rusak karena sebuah pernyataan yang kontroversial.
Artikel Terkait
Tito Karnavian Soroti 17 Wilayah di Sumatera yang Belum Pulih Pascabencana
Subuh Berjemaah di Masjid Nurul Iman, Polisi Riau Sapa Warga Sambil Gaungkan Kamtibmas dan Hijau
Prabowo Kembalikan Dana Daerah Rp 10,6 Triliun untuk Tangani Dampak Banjir di Tiga Provinsi
2026: Ketika Dunia Bergejolak, Indonesia Berbenah di Tengah Perang Sumber Daya