Waspada, Air di Lubang Runtuhan Tanah Bisa Mengandung Bahaya Tersembunyi

- Jumat, 16 Januari 2026 | 19:45 WIB
Waspada, Air di Lubang Runtuhan Tanah Bisa Mengandung Bahaya Tersembunyi

Fenomena sinkhole atau lubang runtuhan tanah yang tiba-tiba muncul di permukaan memang kerap bikin kita terkejut. Menurut Adrin Tohari, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, kejadian seperti ini bukanlah hal yang aneh di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang tanah dasarnya berupa batugamping. Tapi, ada satu hal penting yang ia tekankan: jangan pernah sekalipun langsung meminum air yang terkumpul di dalam lubang-lubang itu.

"Air harus melalui analisis kimia terlebih dahulu," tegas Adrin dalam keterangannya, Jumat (16/1/2026).

Ia memaparkan, pemeriksaan menyeluruh itu mencakup kejernihan, warna, hingga bau. Tak cuma itu, kadar pH, ada-tidaknya bakteri berbahaya macam E. coli, serta kandungan logam berat juga wajib dicek. Semuanya harus sesuai standar ketat yang sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan.

Lalu, bagaimana sebenarnya sinkhole ini bisa tercipta?

Jawabannya ada pada proses alamiah yang berjalan pelan, bahkan bisa memakan waktu puluhan tahun. Semua berawal dari air hujan. Saat turun, air ini menyerap karbon dioksida dari udara dan tanah, lalu menjadi bersifat agak asam. Air asam inilah yang kemudian meresap jauh ke dalam bumi, perlahan-lahan melarutkan batuan gamping yang dilaluinya.

"Proses pelarutan itu membentuk rekahan dan rongga-rongga di bawah permukaan," jelas Adrin.

Seiring waktu, aliran air tanah akan memperbesar rongga tersebut. Lapisan tanah dan batuan di atasnya pun semakin lama semakin tipis dan lemah. Bayangkan seperti atap sebuah gua yang terus terkikis. Akhirnya, saat beban di atasnya sudah tak lagi sanggup ditahan biasanya dipicu hujan lebat yang memperberat beban maka terjadilah keruntuhan dramatis yang kita saksikan sebagai sinkhole.

Daerah seperti Gunung Kidul, Pacitan, atau Maros termasuk yang paling akrab dengan fenomena ini. Wilayah-wilayah karst dengan lapisan batugamping tebal di bawahnya memang jadi panggung utama proses geologi yang satu ini.

Namun begitu, tantangan terbesarnya justru ada di tahap awal. Mendeteksi kemunculan sinkhole itu sangat sulit. Semua proses pembentukan rongga terjadi di balik panggung, jauh di dalam tanah, tanpa tanda-tanda yang kasat mata. Untungnya, teknologi bisa membantu.

Adrin menyebut, metode survei geofisika seperti gayaberat, georadar, dan geolistrik adalah "mata" kita untuk menembus tanah. Metode-metode itu mampu memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah permukaan.

"Dengan gambaran citra bawah tanah itu, potensi sinkhole bisa kita antisipasi lebih awal," pungkasnya.

Jadi, meski alam bergerak diam-diam, kita tak sepenuhnya buta. Kuncinya adalah kewaspadaan dan pemahaman yang baik tentang apa yang terjadi di bawah kaki kita.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar