Seiring waktu, aliran air tanah akan memperbesar rongga tersebut. Lapisan tanah dan batuan di atasnya pun semakin lama semakin tipis dan lemah. Bayangkan seperti atap sebuah gua yang terus terkikis. Akhirnya, saat beban di atasnya sudah tak lagi sanggup ditahan biasanya dipicu hujan lebat yang memperberat beban maka terjadilah keruntuhan dramatis yang kita saksikan sebagai sinkhole.
Daerah seperti Gunung Kidul, Pacitan, atau Maros termasuk yang paling akrab dengan fenomena ini. Wilayah-wilayah karst dengan lapisan batugamping tebal di bawahnya memang jadi panggung utama proses geologi yang satu ini.
Namun begitu, tantangan terbesarnya justru ada di tahap awal. Mendeteksi kemunculan sinkhole itu sangat sulit. Semua proses pembentukan rongga terjadi di balik panggung, jauh di dalam tanah, tanpa tanda-tanda yang kasat mata. Untungnya, teknologi bisa membantu.
Adrin menyebut, metode survei geofisika seperti gayaberat, georadar, dan geolistrik adalah "mata" kita untuk menembus tanah. Metode-metode itu mampu memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah permukaan.
"Dengan gambaran citra bawah tanah itu, potensi sinkhole bisa kita antisipasi lebih awal," pungkasnya.
Jadi, meski alam bergerak diam-diam, kita tak sepenuhnya buta. Kuncinya adalah kewaspadaan dan pemahaman yang baik tentang apa yang terjadi di bawah kaki kita.
Artikel Terkait
Piazza Firenze Garut: Dari Sukaregang Menuju Sorotan Dunia Kulit
Kapolda Riau Tantang Gen-Z Jadi Duta Lingkungan Digital
Puncak Bogor Malam Ini: Antrean Kendaraan Mengular Hingga Larut
Monorel Mangkrak di Rasuna Said Mulai Dibongkar, Pekerjaan Dijalankan Malam Hari