Namun begitu, langkah simbolis ini langsung menimbulkan pertanyaan. Komite Nobel dengan cepat angkat bicara, menegaskan aturan yang sudah lama berlaku. Mereka mengklarifikasi di media sosial X bahwa meskipun medali fisik bisa berpindah tangan, gelar sebagai penerima Nobel Perdamaian tidak bisa dialihkan atau dibagikan kepada siapapun. Poin ini penting, mengingat Trump memang sejak lama diketahui menginginkan penghargaan tersebut. Bahkan, sebelumnya ia sempat meremehkan Machado saat perempuan itu dinyatakan sebagai pemenang.
Latar belakang pertemuan ini pun tak bisa dipisahkan dari situasi politik yang masih panas. Baru pada awal Januari, tepatnya tanggal 3, Trump memerintahkan serangan militer ke Venezuela. Operasi itu berhasil menggulingkan Nicolas Maduro, presiden sayap kiri yang dianggap tidak sah oleh AS dan sekutunya.
Ironisnya, setelah semua itu terjadi, Trump justru menyatakan bahwa Machado yang didukung Washington sebagai pemenang pemilu dirasa tidak layak memimpin Venezuela. Pernyataan itu tentu saja menambah kompleksitas dari pemberian hadiah Nobel yang penuh simbol tadi.
Jadi, meski sepotong medali kini berpindah tangan, gelarnya tetap melekat pada sang pemilik asli. Di balik itu semua, tersimpan narasi politik yang jauh lebih rumit dari sekadar sebuah pemberian.
Artikel Terkait
Kedutaan Selandia Baru di Teheran Ditutup, Diplomat Dievakuasi Amid Kerusuhan
Cipratan Banjir Picu Amuk, Perempuan di Koja Babak Belur
UEA Kian Mantap, Investasi Energi Hijau di Indonesia Bakal Meluas
Polda Metro Jaya Terbitkan SP3 untuk Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis