Di ruang rapat Kantor Kemendagri, Jakarta, Kamis lalu, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah memberikan penjelasan terbaru soal dampak bencana. Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayahnya ternyata meninggalkan jejak kerusakan yang jauh lebih parah dari perkiraan sebelumnya.
Angka yang dia sampaikan cukup mencengangkan. Rumah-rumah warga yang mengalami rusak berat mencapai 5.077 unit.
"Ini data yang sudah kita sampaikan lewat Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana, atau R3P," ujar Mahyeldi dalam rapat satgas itu.
"Itu rusak berat. Dari data kita, jumlahnya ada 5.077 unit."
Namun begitu, angka itu ternyata berbeda dengan catatan yang dipegang oleh pemerintah pusat. Menurut Mahyeldi, pihak pusat baru mencatat sekitar 2.000 rumah rusak. Perbedaannya cukup signifikan.
Belum lagi untuk rumah yang hanyut sama sekali. Untuk kategori ini, jumlahnya mencapai 775 unit.
"Tadi di sana disebutkan 2.000. Kemarin dari Kementerian Perumahan juga 2.000. Makanya, dari data terakhir kita justru 5.077," jelasnya.
"Lalu, yang hanyut itu ada 775 rumah."
Mahyeldi menegaskan bahwa data yang dia bawa bukan angka asal. Data tersebut, menurutnya, sudah melalui proses verifikasi ketat dan bahkan telah diserahkan ke pemerintah pusat.
"Dan ini sudah hasil verifikasi, Pak," sambungnya.
"Pengerjaannya bekerja sama dengan BNPB dan juga melibatkan Perguruan Tinggi untuk memverifikasi. Itulah data yang kita masukkan ke R3P dan sudah kita serahkan."
Artikel Terkait
Madura United Tunjuk Jose Gomes sebagai Pelatih Baru untuk Musim 2026-2027
Transportasi Umum di Jakarta Digratiskan 27-28 Juni 2026 dalam Rangka HUT ke-499 Kota
Pertamina Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 per 10 Juni 2026, Masing-masing Tembus Rp16.250 dan Rp17.000 per Liter
Hakim Banding Perberat Kewajiban Uang Pengganti Ariyanto Bakri Jadi Rp21,6 Miliar, Hukuman 16 Tahun Penjara Tetap