Langit di Victoria sore itu bukan lagi biru. Asap pekat mengepul, membumbung tinggi, dan warna merah menyala di ufuk memberi isyarat yang jelas: api sedang mendekat. Bagi banyak penduduk, termasuk warga Indonesia yang tinggal dan bekerja di sana, hari-hari di awal Januari 2026 itu adalah momen penuh kecemasan.
Angga Efriansyah masih ingat betul. Kamis, 8 Januari, ia sedang bekerja di sebuah kebun ceri di Yarck. Sejak pagi, bau hangus sudah tercium. Tapi baru sekitar pukul dua belas siang, mereka akhirnya dipulangkan. Kondisinya sudah tidak memungkinkan.
"Ketika kami keluar, asapnya sudah tebal banget, dan langit sudah kemerahan," kenang pemuda asal Pekanbaru itu.
"Api mungkin sudah berada di belakang bukit."
Rupanya, kobaran api sudah melalap Longwood jaraknya sekitar 81 kilometer dari Yarck. Kebakaran di Longwood itu termasuk yang paling ganas. Menurut laporan, tak kurang dari 154 bangunan luluh lantak karenanya.
Pulang ke rumahnya di area peternakan, Angga malah melihat pemandangan yang lebih mencemaskan. Nyala api sudah terlihat jelas di balik bukit-bukit sekitar rumahnya. Petugas darurat berkeliling, meminta warga segera mengungsi. Situasinya genting.
"Semua teman-teman saya bergegas mengambil koper, segala macam perlengkapan untuk segera mengevakuasikan diri," ujarnya.
"Kendaraan [di jalan] sangat padat, mereka pergi ke Melbourne untuk menyelamatkan diri."
Awalnya Angga cuma mengungsi ke kota terdekat, Alexandra. Perjalanan cuma sepuluh menit. Ia masih berharap api bisa cepat dikendalikan. Tapi kabar buruk datang: angin kencang membuat api bergerak cepat dan tak terduga. Tanpa pikir panjang, ia dan seorang teman memutuskan lari lebih jauh, ke Melbourne. Mereka menginap di sebuah apartemen selama dua hari.
Setelah situasi agak mereda, tanggal 10 Januari, Angga mencoba mendekat lagi, ke Shepparton. Tapi jalan menuju Yarck masih ditutup. Ia tak bisa mengambil barang-barangnya. Bahkan, kabar yang beredar menyebut bagian rumahnya ikut terbakar. Hingga kini ia belum bisa kembali bekerja, dan sedang mengajukan bantuan keuangan dari pemerintah setempat.
Memang, skala kerusakannya luar biasa. Kebakaran ini disebut-sebut telah menghancurkan sekitar 260 rumah dan 900 bangunan lainnya. Para petani merugi, dengan sekitar 20.000 hewan ternak mati. Seorang peternak di Longwood ditemukan tewas, jasadnya tergeletak sekitar seratus meter dari mobilnya.
'Memperhatikan Arah Angin'
Kecemasan serupa dirasakan Lisda Speight. Perempuan Indonesia yang sudah empat tahun menetap di Colac ini awalnya mengira Sabtu, 10 Januari, adalah hari biasa. Sorenya, ia malah pergi belanja saat suhu mulai turun. Pulang ke rumah, pemandangan yang menyambut justru kepulan asap besar di kejauhan.
Tak lama, pesan dari teman-teman berdatangan. Intinya sama: sudah siap-siap mengungsi belum?
"Wah, mulailah panik," akunya.
Lisda langsung beraksi. Paspor, pakaian, barang penting lain dimasukkan ke mobil. Dua kucing peliharaannya juga disiapkan, kalau-kalau harus buru-buru pergi. Tetangga-teangganya pun melakukan hal serupa. Suasana tegang, tapi mereka berusaha koordinasi.
"Tetangga dengan handphone masing-masing memperhatikan arah angin," cerita Lisda.
"Helikopter setiap lima menit sekali datang dan pemadam kebakaran melakukan tugasnya dengan baik untuk melindungi Colac."
Kebetulan, tetangganya, Mahsuri Murch atau yang akrab disapa Suri, juga mengalami hal sama. Ia seorang pendamping warga difabel dan sempat dipulangkan lebih awal karena tempat kerjanya masuk zona bahaya. Sesampai di rumah, Suri berusaha tenang sambil mengemasi dokumen dan obat-obatan penting.
"Saya mencoba tenang, karena [asap] kelihatan sangat dekat sekali dari halaman belakang [rumah]," katanya.
"Dan tetangga sudah mulai berkumpul di depan rumah."
Beruntung, angin kemudian berbalik arah, menjauhi Colac. Lisda dan Suri pun akhirnya tak perlu mengungsi. Meski begitu, malam itu mereka sama sekali tidak bisa tidur. Aplikasi VicEmergency terus dipantau, khawatir situasi berubah tiba-tiba.
"Masih berjaga-jaga, karena takut angin itu berbalik," ujar Lisda.
Trauma yang Kembali
Bagi Lisda, peristiwa ini membangkitkan kenangan pahit. Rumah masa kecilnya di Indonesia dulu juga pernah habis dilalap api, saat usianya baru lima tahun. Kini, tinggal sendiri setelah suaminya meninggal, kecemasannya terasa lebih besar.
"Dua puluh delapan tahun tinggal di bush [kawasan semak-semak] karena suami ada di samping, enggak begitu khawatir. Sekarang ini hidup sendiri... Wah, kebayang kan, bagaimana?" ujarnya. "Tapi puji Tuhan, tetangga kiri, kanan, semua baik... banyak membantu kita, saling komunikasi."
Ia mengaku, selama di Colac, belum pernah merasakan situasi separah ini. "Kota Colac itu sebenarnya aman... Cuma kemarin itu karena sudah 40 derajat sampai hampir satu minggu, kering, tidak ada hujan, anginnya begitu kencang... itulah yang membuat kebakaran menyerang."
Angga punya perbandingan sendiri. Ia tiba di Australia pada Februari 2024, dan sempat melihat kebakaran di area yang sama di akhir tahun itu. Tapi, kata dia, skalanya jauh berbeda.
"Kalau dulu mungkin tidak besar, jadi bisa dipadamkan dengan helikopter atau pemadam kebakaran," jelasnya.
"Namun tahun ini, kebakarannya sangat luar biasa, bahkan banyak rumah terbakar dan banyak yang [hewan] peternakannya, kambing-kambingnya pada mati. Sungguh-sungguh dahsyat."
Pengalaman mengungsi yang melelahkan itu membuatnya berpikir untuk pindah ke daerah perkotaan Melbourne, yang dirasa lebih aman. Ada pelajaran berharga yang ia petik: kesiapsiagaan adalah kunci.
"Mungkin kita [belajar untuk] lebih wanti-wanti," katanya.
"Kita siap untuk mengemas barang... lebih sigap... kita siapkan barang-barang di mobil, jadi ketika ada informasi yang tidak enak atau warning, kita lebih cepat untuk keluar dari daerah tersebut."
Sementara itu, upaya pemadaman di beberapa titik di Victoria masih terus dilakukan. Pemerintah sudah menggelontorkan bantuan lebih dari 100 juta dolar Australia, separuhnya dialokasikan khusus untuk membantu para petani yang terdampak.
Premier Victoria Jacinta Allan menegaskan komitmennya.
"Kita telah melihat… bagaimana kebakaran telah menghancurkan komunitas, kita telah kehilangan rumah dan bisnis," katanya Rabu lalu (14/01).
"Pemerintah akan terus berdiri bersama warga dalam perjalanan pemulihan yang panjang ke depan dan dukungan tersedia, dan kami akan terus berada di lapangan untuk mendengarkan warga."
Pemulihan memang masih panjang. Bagi Angga, Lisda, Suri, dan ribuan warga lainnya, hidup harus kembali dibangun perlahan. Sambil berharap angin kencang dan cuaca ekstrem tak lagi membawa malapetaka seperti ini.
Artikel Terkait
JPPI Desak Pemberhentian dan Pencabutan Gelar Guru Besar Unpad Terduga Pelaku Pelecehan
NO NA Rilis Single Rollerblade Jelang Tampil di Festival Head In The Clouds 2026
Jaksa Tuntut Mantan Pejabat Kemendikbud 6-15 Tahun Penjara atas Korupsi Chromebook Rp 2,1 Triliun
Gencatan Senjata Israel-Lebanon Langsung Diwarnai Pelanggaran di Berbagai Front