Kemiskinan itu punya banyak wajah. Ada yang kasat mata: rumah reyot, dapur yang sepi, seragam sekolah lusuh yang turun-temurun. Tapi ada jenis lain yang lebih sunyi. Sebuah kemiskinan yang bekerja dalam diam, menggerogoti keberanian untuk bermimpi, dan perlahan-lahan membuat seseorang seolah lenyap dari pandangan.
Presiden Prabowo Subianto pernah menyebut mereka sebagai "the invisible people". Ucapan itu ia sampaikan dalam Sidang Kabinet Merah Putih, Oktober 2025 lalu. Orang-orang paling bawah, yang sering tak kita lihat dan tak kita rasakan penderitaannya.
Itu bukan sekadar retorika. Dari kesadaran itulah, Sekolah Rakyat kemudian dirancang. Ini lebih dari sekadar lembaga pendidikan. Ini adalah ikhtiar untuk memutus sebuah rantai. Karena kemiskinan kerap diwariskan bukan oleh takdir, melainkan oleh ketidakadilan kesempatan.
Gagasan itu pun bergulir menjadi gerakan. Kini, ada 166 titik Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi, menjangkau 131 kabupaten dan kota. Angkanya mungkin terkesan administratif, tapi mari kita lihat lebih dekat.
Secara bertahap, 63 titik mulai berjalan Juli 2025. Lalu 37 titik menyusul di Agustus. Dan 66 titik lagi dimulai pada akhir September hingga awal Oktober. Total, program ini menampung 15.954 siswa. Mereka didampingi oleh 2.218 guru dan hampir 5.000 tenaga kependidikan.
Namun, angka-angka ini bukan untuk dibanggakan. Ini untuk diingat. Di balik setiap digit, ada seorang anak yang sedang berusaha menggenggam kembali masa depannya.
Lalu, siapa sebenarnya anak-anak ini?
Sekolah Rakyat jelas bukan untuk mereka yang sudah punya akses. Ini dibangun bagi suara-suara yang hampir tak terdengar. Hasil penjangkauan dan verifikasi lapangan, yang dilakukan bersama pendamping sosial dan dinas setempat, menggambarkan kondisi yang sangat rentan.
Enam puluh persen orang tua mereka bekerja sebagai buruh harian, kuli bangunan, nelayan, atau pemulung pekerjaan dengan penghasilan yang tak menentu. Mayoritas, 67%, punya pendapatan keluarga di bawah satu juta rupiah per bulan. Dan 65% harus menanggung lebih dari empat anggota keluarga.
Data lain lebih menyentuh: ada 454 siswa yang sebelumnya tidak atau belum pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Sebanyak 298 lainnya adalah anak putus sekolah, beberapa di antaranya sudah terpaksa bekerja di usia sangat muda. Kami juga menemukan fakta-fakta sunyi: banyak anak berasal dari keluarga orang tua tunggal, dan tak sedikit yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Inilah wajah "yang tak terlihat" itu. Dan di sinilah Sekolah Rakyat mencoba berdiri, berupaya agar negara tidak datang terlambat.
Lebih Dari Sekolah: Sebuah Ekosistem
Konsepnya bukan sekolah dalam artian sempit. Ini dibangun sebagai ekosistem perlindungan, pemulihan, dan pemberdayaan. Sebab kemiskinan bukan cuma soal kurang uang, tapi juga kesehatan yang rapuh, peluang yang sempit, dan lingkungan yang tidak aman.
Anak-anak belajar 24 jam di sini. Bukan untuk dikekang, tapi untuk memastikan mereka tumbuh dalam ritme yang terjaga: sehat, tertib, dan percaya diri. Setiap detik adalah bagian dari pelajaran.
Hal mendasar diprioritaskan sejak awal. Ada cek kesehatan gratis dan pemenuhan gizi tiga kali makan berat ditambah dua kali snack setiap harinya.
Pintu masuknya pun berbeda. Tidak ada tes akademik. Banyak anak tertinggal bukan karena tidak cerdas, tapi karena tak pernah diberi kesempatan. Untuk memetakan potensi, kami menggunakan tes DNA-Talent berbasis teknologi. Tujuannya sederhana: mengenali anak bukan dari kekurangannya, melainkan dari kekuatannya.
Pendidikan formal berjalan dengan kurikulum yang dipersonalisasi, dibimbing guru tersertifikasi. Di asrama, wali asuh dan wali asrama membangun kebiasaan hidup sehat dan mandiri. Bahkan, TNI membantu membina kedisiplinan, sementara Polri menjaga keamanan. Dukungan psikologis juga tersedia.
Proses belajar memanfaatkan sistem LMS, dengan laptop sebagai alat bantu. Penggunaan HP dibatasi. Intinya, Sekolah Rakyat kami posisikan bagai "kawah candradimuka". Tempat anak-anak yang dianggap rapuh ditempa menjadi pribadi tangguh. Bukan untuk meninggalkan keluarga, tapi justru untuk mengangkat derajat keluarganya.
Artikel Terkait
Genangan Air Masih Bertahan, Tiga Kabupaten di Banten Belum Pulih dari Banjir
Prabowo Undang 1.200 Rektor dan Guru Besar ke Istana, Bahas Strategi Besar Pendidikan
Iran Tutup Langit, Penerbangan Air India Terpental dan Batal
Iran di Persimpangan: Protes, Nuklir, dan Ancaman Perang yang Menggantung