"Ini bisa jadi penggerak produksi sampai pemasaran hasil desa," ujarnya.
Bahkan, Kopdeskel ini bisa disinergikan dengan program lain, misalnya Program Makan Bergizi Gratis. Caranya? Dengan menyediakan bahan pangan lokal dan memperkuat rantai pasok pangan nasional.
Namun begitu, di tengah optimisme itu, Wiyagus tak lupa menyampaikan duka. Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara jadi pengingat yang keras. Kejadian itu menegaskan betapa pentingnya membangun desa yang tangguh.
Perencanaan yang matang, kapasitas aparatur yang mumpuni, dan pemanfaatan dana desa untuk mitigasi bencana menjadi kunci. Terutama untuk pemulihan pasca bencana.
"Kemandirian desa juga harus diimbangi dengan kesiapan menghadapi dampak perubahan iklim," tandasnya. Tujuannya satu: agar kesejahteraan masyarakat bisa tetap terjaga, apapun tantangannya.
Artikel Terkait
Greenland Tegaskan Setia ke Denmark, Tolak Isu Aneksasi AS
Satgas PKH Kuasai Jutaan Hektar Lahan, Denda Pelaku Sawit-Tambang Tembus Rp 5,2 Triliun
Antam Bantah Ledakan di Tambang Pongkor, Asap Tebal Ternyata dari Kayu Terbakar
Perpusnas Terpangkas Drastis, Anggaran Rp 377 Miliar Dinilai Tak Mampu Rawat Naskah Kuno