"Ini bisa jadi penggerak produksi sampai pemasaran hasil desa," ujarnya.
Bahkan, Kopdeskel ini bisa disinergikan dengan program lain, misalnya Program Makan Bergizi Gratis. Caranya? Dengan menyediakan bahan pangan lokal dan memperkuat rantai pasok pangan nasional.
Namun begitu, di tengah optimisme itu, Wiyagus tak lupa menyampaikan duka. Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara jadi pengingat yang keras. Kejadian itu menegaskan betapa pentingnya membangun desa yang tangguh.
Perencanaan yang matang, kapasitas aparatur yang mumpuni, dan pemanfaatan dana desa untuk mitigasi bencana menjadi kunci. Terutama untuk pemulihan pasca bencana.
"Kemandirian desa juga harus diimbangi dengan kesiapan menghadapi dampak perubahan iklim," tandasnya. Tujuannya satu: agar kesejahteraan masyarakat bisa tetap terjaga, apapun tantangannya.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 3,085 Juta per Gram
Serangan AS-Israel Tewaskan 18 Warga di Lamerd, Mayoritas Anak-Anak
Otorita IKN Bagikan 1.000 Mushaf dan Kurma Raja Salman Sambut Ramadan di Samboja
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas di Tengah Eskalasi Perang dengan AS dan Israel