Mendagri Tito Soroti Kemandirian Fiskal sebagai Kunci Laju Daerah

- Rabu, 14 Januari 2026 | 21:20 WIB
Mendagri Tito Soroti Kemandirian Fiskal sebagai Kunci Laju Daerah

Kreativitas dan keberanian para kepala daerah dinilai sebagai kunci utama. Tanpa itu, sulit mengharapkan pertumbuhan ekonomi yang benar-benar berkualitas dan berkelanjutan di tingkat lokal. Demikian penegasan Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, dalam sebuah kesempatan belum lama ini. Ia juga menyoroti satu indikator krusial: kemandirian fiskal.

Menurut Tito, daerah dengan keuangan yang kuat punya kelincahan lebih. Mereka bisa bergerak cepat, mengeksekusi berbagai program pembangunan tanpa selalu menengok ke pusat.

"Keberhasilan suatu daerah itu adalah kemandirian fiskal. Jadi kalau kemandirian fiskal mereka kuat, keuangan daerah itu kuat, dia membuat program apa saja gampang, mau ide apanya (apa pun) itu, bisa (lebih mudah) dieksekusi,"

ujar Tito dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).

Pernyataan itu ia sampaikan saat jadi narasumber talk show 'Semangat Awal Tahun 2026' di IDN Headquarters, Jakarta. Tema yang diangkat adalah '440 Hari Pemerintahan Presiden Prabowo: Menuju Pertumbuhan yang Berkualitas'.

Lantas, bagaimana caranya? Kuncinya ada pada optimalisasi Pendapatan Asli Daerah atau PAD. Memang, transfer dari pemerintah pusat tetap penting perannya. Namun begitu, daerah harus mulai mengurangi ketergantungan itu secara bertahap. PAD yang sehat, kata Tito, lahir dari aktivitas ekonomi dan dunia usaha yang juga sehat.

Ia lantas memberi contoh. Ambil Kabupaten Badung di Bali. Sebagian besar APBD-nya ditopang oleh pajak dari sektor pariwisata yang memang jadi andalan. Lain lagi ceritanya dengan Timika dan Bojonegoro. Pendapatan besar mereka dapatkan dari pengelolaan sumber daya alam.

Sayangnya, masih banyak daerah yang PAD-nya jeblok. Penyebabnya? Sektor swasta setempat belum benar-benar bergeliat. Akibatnya, mereka masih sangat bergantung pada belanja pemerintah dan transfer dana dari pusat. Tito mendorong para pemimpin daerah untuk mengubah pola pikir. Jangan hanya fokus mengelola pengeluaran, tapi juga harus aktif menciptakan sumber pendapatan baru.


Halaman:

Komentar