"Jadi berpikirlah lebih banyak, bagaimana nyari pendapatan. Ini membutuhkan kreativitas, salah satunya adalah mempermudah perizinan,"
tegasnya.
Penyederhanaan perizinan ini bukan hal sepele. Di mata Tito, kemudahan berusaha adalah prasyarat mutlak untuk menarik investasi dan menggerakkan roda perekonomian lokal.
Di sisi lain, dialog yang intens antara pemda dan pelaku usaha juga tak kalah penting. Baik itu dengan pengusaha perorangan, asosiasi, maupun Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Dari situlah potensi ekonomi yang mungkin terpendam bisa digali, lalu dirumuskan menjadi kebijakan yang tepat sasaran.
Pada akhirnya, daerah yang pendapatannya kuat dan bisa mengelola belanjanya dengan efisien akan melesat lebih cepat. Mereka jadi mandiri. Ini bukan hanya soal kesejahteraan daerah semata, tapi sejalan dengan agenda nasional untuk pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
"Kalau bisa dia jaga pendapatannya itu tinggi, belanjanya bisa dihemat, otomatis daerah itu akan maju dan tidak tergantung (pada) pemerintah pusat,"
tandas Tito menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 3,085 Juta per Gram
Serangan AS-Israel Tewaskan 18 Warga di Lamerd, Mayoritas Anak-Anak
Otorita IKN Bagikan 1.000 Mushaf dan Kurma Raja Salman Sambut Ramadan di Samboja
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas di Tengah Eskalasi Perang dengan AS dan Israel