Sebenarnya, pernyataan Rivqy ini mengikuti langsung kritik yang dilontarkan Prabowo beberapa hari sebelumnya. Dalam sebuah acara peresmian yang disiarkan virtual, Senin (12/1), Presiden tak segan menyoroti kinerja sejumlah direksi BUMN. Ia menilai mereka tidak profesional dan abai terhadap pengabdian kepada negara. Buktinya? Praktik pemberian tantiem masih terjadi meski perusahaan sedang merugi. Prabowo menyebut tindakan semacam ini sebagai hal yang "tidak tahu malu" dan 'ndableg'.
Bahkan, ia dengan gamblang mempersilakan para direksi dan komisaris pelat merah yang keberatan dengan penghapusan tantiem untuk mundur. Alasannya sederhana: masih banyak orang kompeten yang bisa menggantikan posisi mereka.
Kondisi seperti itu, dalam pandangan Prabowo, jauh lebih baik. Daripada bertahan di pucuk pimpinan tapi malah berbuat curang untuk keuntungan pribadi. Apalagi kecurangan itu jelas-jelas merugikan perusahaan dan negara. Padahal, sumber daya tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa.
Prabowo menekankan, menjaga kekayaan negara adalah keharusan. Semua itu dibutuhkan untuk memperkuat bangsa, mengentaskan kemiskinan dan kelaparan, serta mengejar ketertinggalan di bidang industri dan teknologi.
Artikel Terkait
Iran Klaim Serang 27 Pangkalan AS dan Sasaran Israel di Tengah Eskalasi
Presiden Iran Sumpah Balas Dendam Usai Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel
Ramadan Ubah Jam Kerja di Belasan Negara, Termasuk yang Non-Muslim Mayoritas
Iran Serang Dubai, Bandara Tersibuk Dunia Alami Kerusakan