Sebenarnya, pernyataan Rivqy ini mengikuti langsung kritik yang dilontarkan Prabowo beberapa hari sebelumnya. Dalam sebuah acara peresmian yang disiarkan virtual, Senin (12/1), Presiden tak segan menyoroti kinerja sejumlah direksi BUMN. Ia menilai mereka tidak profesional dan abai terhadap pengabdian kepada negara. Buktinya? Praktik pemberian tantiem masih terjadi meski perusahaan sedang merugi. Prabowo menyebut tindakan semacam ini sebagai hal yang "tidak tahu malu" dan 'ndableg'.
Bahkan, ia dengan gamblang mempersilakan para direksi dan komisaris pelat merah yang keberatan dengan penghapusan tantiem untuk mundur. Alasannya sederhana: masih banyak orang kompeten yang bisa menggantikan posisi mereka.
Kondisi seperti itu, dalam pandangan Prabowo, jauh lebih baik. Daripada bertahan di pucuk pimpinan tapi malah berbuat curang untuk keuntungan pribadi. Apalagi kecurangan itu jelas-jelas merugikan perusahaan dan negara. Padahal, sumber daya tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa.
Prabowo menekankan, menjaga kekayaan negara adalah keharusan. Semua itu dibutuhkan untuk memperkuat bangsa, mengentaskan kemiskinan dan kelaparan, serta mengejar ketertinggalan di bidang industri dan teknologi.
Artikel Terkait
Aktivis Lingkungan Terima Teror: Bangkai Ayam Tanpa Kepala dan Ancaman Lewat Keluarga
Warna-Warna Cerah Stasiun KRL Cikini-Jayakarta Bikin Mood Penumpang Naik
Mahasiswi Unas Tewas Muntah Darah di Teras Kos, Sempat Panggil Tetangga
BNN Ungkap Peredaran Narkoba di Cengkareng Berawal dari Satu Nomor Telepon