Di sisi lain, fungsi warna itu ternyata berkembang. Kini, selain sebagai penunjuk arah, kombinasi kelir itu memberi pengalaman visual yang lebih manusiawi. Bagi sebagian orang, itu bikin perjalanan yang seringkali melelahkan jadi sedikit lebih nyaman.
“Lebih nyaman aja dilihatnya. Jadi kaya nggak terlalu asing. Terutama untuk orang-orang yang rantau atau yang dateng dari jauh,” ujar Dias (27), yang baru saja turun di Stasiun Sawah Besar.
Memang, kenyataannya gerbong KRL tiap hari tetap sesak. Namun begitu, setidaknya ada sedikit penghibur hati. Seperti pantun dari seorang kondektur yang kadang terdengar di antara gemuruh roda kereta:
Bunga mawar harum mewangi Tumbuh subuh di taman istana Walau KRL berdesakan begini Tetap sabar, jangan lupa senyumnya
Enam stasiun, enam warna. Mereka berdiri tegak di lintas layang, tak lekang dimakan zaman. Menjadi saksi bisu ribuan cerita perjalanan warga ibu kota, sambil menyembunyikan fungsi praktisnya di balik riasan warna-warni yang cerah.
Artikel Terkait
Hakim Ad Hoc Berunjuk Rasa ke DPR, 13 Tahun Hidup Tanpa Gaji Pokok
Ferrari dan Harley-Davidson Jadi Barang Bukti Sidang Suap Minyak Goreng
Tukang Tambal Ban di Kelapa Gading Minta Tebusan untuk Pelat Nomor yang Tersapu Banjir
Boyolali Siap Jadi Tuan Rumah Puncak Hari Desa Nasional 2026