Di sisi lain, fungsi warna itu ternyata berkembang. Kini, selain sebagai penunjuk arah, kombinasi kelir itu memberi pengalaman visual yang lebih manusiawi. Bagi sebagian orang, itu bikin perjalanan yang seringkali melelahkan jadi sedikit lebih nyaman.
“Lebih nyaman aja dilihatnya. Jadi kaya nggak terlalu asing. Terutama untuk orang-orang yang rantau atau yang dateng dari jauh,” ujar Dias (27), yang baru saja turun di Stasiun Sawah Besar.
Memang, kenyataannya gerbong KRL tiap hari tetap sesak. Namun begitu, setidaknya ada sedikit penghibur hati. Seperti pantun dari seorang kondektur yang kadang terdengar di antara gemuruh roda kereta:
Bunga mawar harum mewangi Tumbuh subuh di taman istana Walau KRL berdesakan begini Tetap sabar, jangan lupa senyumnya
Enam stasiun, enam warna. Mereka berdiri tegak di lintas layang, tak lekang dimakan zaman. Menjadi saksi bisu ribuan cerita perjalanan warga ibu kota, sambil menyembunyikan fungsi praktisnya di balik riasan warna-warni yang cerah.
Artikel Terkait
HNW Ajak Jaga Silaturahmi dan Soroti Stunting dalam Buka Puasa Bersama Tokoh Perempuan
SBY Peringatkan Ancaman Defisit APBN Ratusan Triliun Akibat Perang Timur Tengah
Uni Eropa Hadapi Dilema Hukum Internasional Usai Serangan AS-Israel Tewaskan Pemimpin Iran
Warga Banjarmasin Berbuka Puasa Pukul 18.42 WIB, Doa Mustajab di Saat Berbuka