"Anak-anak ini tewas akibat serangan udara, serangan pesawat tak berawak, termasuk pesawat tak berawak bunuh diri. Mereka tewas akibat tembakan tank. Mereka tewas akibat peluru tajam. Mereka tewas akibat helikopter tempur," papar Elder, merinci setiap penyebab dengan nada yang berat.
Ia bahkan meyakini angka sebenarnya mungkin lebih tinggi. "Kita sudah mencapai 100 tidak diragukan lagi," tandasnya. Situasi ini lalu memunculkan pertanyaan besar tentang esensi dari gencatan senjata itu sendiri. Apa gunanya sebuah jeda jika korban sipil, terutama yang paling rentan, masih terus berjatuhan?
Pernyataan terakhir Elder itu seperti gong yang menghentak. Sebuah kritik pedas yang menggambarkan betapa situasi di lapangan masih jauh dari kata aman, dan perlindungan bagi anak-anak tampaknya belum menjadi prioritas.
Artikel Terkait
Buruh Serbu Senayan Besok, Tuntut UMP Jakarta Rp 5,89 Juta
Tiang Monorel Rasuna Said Akhirnya Runtuh, Lalu Lintas Dijamin Tak Tersendat
Iran Tuding AS Cari-Cari Dalih untuk Invasi Militer
Cemburu Berujung Maut, Suami Siri Piting Terapis di Bekasi