AS Kecam Rusia di PBB: Rudal Nuklir Oreshnik Picu Eskalasi Berbahaya di Ukraina

- Selasa, 13 Januari 2026 | 12:15 WIB
AS Kecam Rusia di PBB: Rudal Nuklir Oreshnik Picu Eskalasi Berbahaya di Ukraina

Washington tak tinggal diam. Dalam sebuah pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB Senin lalu, pemerintah Amerika Serikat melayangkan kecaman keras terhadap Rusia. Penyebabnya? Penggunaan rudal balistik berkemampuan nuklir, yang mereka sebut Oreshnik, di wilayah Ukraina. AS menyebut langkah Moskow ini sebagai sebuah "eskalasi berbahaya" yang sulit diterima akal sehat.

Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Tammy Bruce, tak sungkan menyuarakan kekhawatiran itu. Suaranya tegas di ruang sidang.

"Ini adalah eskalasi berbahaya dan tak dapat dijelaskan dalam perang ini," ujarnya. Bruce menegaskan, serangan dengan rudal jarak menengah itu terjadi justru ketika AS dan sekutunya berupaya keras bekerja sama dengan Kyiv dan juga Moskow untuk mencari jalan damai lewat negosiasi.

Ia juga menyoroti pola serangan yang kian menjadi. "Kami mengutuk serangan Rusia yang terus berlanjut dan semakin intensif terhadap fasilitas energi Ukraina dan infrastruktur sipil lainnya," imbuhnya. Pernyataan itu dikutip dari laporan kantor berita AFP, Selasa (13/1/2026).

Di sisi lain, narasi dari Moskow sungguh berbeda. Pemerintah Rusia bersikeras bahwa rudal itu ditembakkan untuk menghantam sebuah pabrik perbaikan aviasi di Lviv, wilayah barat Ukraina. Alasannya? Klaim mereka, serangan itu adalah balasan atas upaya Kyiv yang disebut ingin menyerang salah satu kediaman Presiden Vladimir Putin. Klaim yang, tentu saja, langsung dibantah mentah-mentah oleh pihak Ukraina.

Faktanya, Ukraina mengakui ada rudal yang menghujam kawasan Lviv, dekat perbatasan Polandia. Namun, mereka enggan mengonfirmasi apakah sasarannya benar-benar tepat ke pabrik yang disebut Rusia. Situasinya jadi samar, seperti kabut di pagi hari. Satu yang jelas: ketegangan masih menggumpal, dan kata-kata di PBB belum cukup untuk meredamnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar