Ia juga menyoroti pola serangan yang kian menjadi. "Kami mengutuk serangan Rusia yang terus berlanjut dan semakin intensif terhadap fasilitas energi Ukraina dan infrastruktur sipil lainnya," imbuhnya. Pernyataan itu dikutip dari laporan kantor berita AFP, Selasa (13/1/2026).
Di sisi lain, narasi dari Moskow sungguh berbeda. Pemerintah Rusia bersikeras bahwa rudal itu ditembakkan untuk menghantam sebuah pabrik perbaikan aviasi di Lviv, wilayah barat Ukraina. Alasannya? Klaim mereka, serangan itu adalah balasan atas upaya Kyiv yang disebut ingin menyerang salah satu kediaman Presiden Vladimir Putin. Klaim yang, tentu saja, langsung dibantah mentah-mentah oleh pihak Ukraina.
Faktanya, Ukraina mengakui ada rudal yang menghujam kawasan Lviv, dekat perbatasan Polandia. Namun, mereka enggan mengonfirmasi apakah sasarannya benar-benar tepat ke pabrik yang disebut Rusia. Situasinya jadi samar, seperti kabut di pagi hari. Satu yang jelas: ketegangan masih menggumpal, dan kata-kata di PBB belum cukup untuk meredamnya.
Artikel Terkait
Saksi Ungkap Chromebook Tak Bisa Jalankan Aplikasi Krusial Kemendikbud
Iran Panggil Diplomat Eropa, Parlemen Uni Eropa Balas dengan Larangan Masuk
PKB Anggap E-Voting Bisa Jadi Solusi, Tapi Jangan Terburu-buru
Prabowo Soroti Dominasi Alumni Taruna Nusantara di Kabinetnya