Longsor itu sendiri, kata Lana, diduga kuat terjadi karena curah hujan yang tinggi belakangan ini. Tebing jadi jenuh air dan kehilangan kestabilannya. Nah, material yang runtuh itulah yang menghantam permukaan danau, menciptakan gemuruh dan riak gelombang yang terekam kamera warga.
Di sisi lain, ada kabar baik. Hasil pengamatan visual dan instrumental hingga tanggal 12 Januari menunjukkan tidak ada peningkatan aktivitas kegempaan yang mengkhawatirkan di sana. Artinya, gunung itu masih relatif tenang.
Gunung Kelimutu sendiri memang punya pesona unik. Gunung api strato setinggi 1.384 meter ini terkenal dengan tiga danau kawahnya yang kerap berubah warna. Ada Tiwu Ata Polo (Kawah I), Tiwu Koofai Nuwamuri (Kawah II yang jadi lokasi longsor), dan Tiwu Ata Bupu (Kawah III). Kejadian kali ini menambah cerita tentang dinamika alam di salah satu keajaiban Flores, NTT, itu.
Artikel Terkait
Anies Kritik Dinasti Politik dan Desak Evaluasi Aturan Pilkada
NasDem Kalbar Gelar Buka Puasa Bersama Anak Yatim dan Bahas Target Pemilu 2029
Ratusan TKA Ilegal di KEK Galang Batang Soroti Lemahnya Integrasi Data
Tiga Remaja Tangerang Diamankan Usai Lempar Petasan ke Sopir Angkot