Namun begitu, masalah belum sepenuhnya beres. Masih ada sejumlah kampung dengan rumah-rumah yang rusak. Tito meminta Bupati setempat segera menyelesaikan pendataan kerusakan, yang dikategorikan ringan, sedang, dan berat. Bantuan yang disiapkan pun bervariasi: Rp 15 juta untuk rusak ringan, Rp 30 juta untuk sedang, dan Rp 60 juta untuk berat.
"(Yang) berat tidak punya pilihan, indeksnya 60 juta. Apakah mau dibangunkan? Kalau dibangunkan, namanya huntap (hunian tetap). Cuma ada problema di sini huntap, di Gayo Lues tidak ada tanah pemerintah. Perlu ada biaya untuk pembebasan (lahan) bagi masyarakat. Beliau (Bupati Gayo Lues) mengajukan anggaran lebih kurang Rp 25 miliar. Nanti saya akan suarakan kepada Menteri Perumahan," ungkap Tito.
Tidak berhenti di situ. Tito juga menyebut bahwa warga terdampak bisa diusulkan untuk mendapat bantuan sosial reguler, seperti PKH atau Prakerja. Mereka yang ekonominya terpukul akibat bencana berhak mendapat dukungan itu. "Nah, itu mereka nanti akan bisa diusulkan oleh Pak Bupati," tuturnya.
Soal logistik, kabar baiknya akses jalan darat sudah berangsur pulih. Distribusi bantuan pun bisa berjalan, meski masih terbatas. Ketika Bupati meminta tambahan beras, Tito mengaku langsung berkoordinasi dengan Bulog. Ia pun memberi catatan penting.
"Kalau ada permintaan (beras) resmi, ini akan ada pertanggungjawaban. Kalau untuk bencana, tidak dibayar, tidak. Berbeda dengan (beras) SPHP itu, yang untuk stabilisasi pangan harga. Itu kan harganya Rp 12 ribu per kilo. Tapi kalau untuk bencana, itu negara yang memberikan secara gratis," tutup Tito.
Artikel Terkait
Iran Ancam AS dan Israel, Korban Kerusuhan Tembus 500 Jiwa
Piton Raksasa Telan Kambing Hidup-Hidup, Warga Buton Buru dan Tumpas
Semeru Muntahkan Awan Panas Sejauh 5 Kilometer, Status Tetap Siaga
Korban Dibawah Umur Ditemukan Berlumur Lumpur Usai Diduga Diperkosa Teman di Sekadau