Pesan Tersembunyi di Buku Catatan
Juniar Diah Afifah baru menyadarinya setelah semuanya usai. Di buku catatannya yang tergeletak di kamar asrama, ada tulisan tangan yang tak ia duga. Presiden Prabowo Subianto, dalam kunjungannya ke SRMA 10 Jakarta Selatan pada suatu Kamis di September lalu, ternyata menyempatkan diri menuliskan pesan pribadi. "Belajarlah yang baik, hormati guru. Cintai ayah dan ibu," tulisnya. Pesan itu berlanjut dengan nasihat untuk rajin sembahyang, bersikap sopan, rajin olahraga, mencintai tanah air, dan selalu bersemangat serta gembira.
Bagi Juniar yang berusia 16 tahun, momen itu sungguh di luar dugaan. Ia mengaku terkejut sekaligus senang bukan main. Tak pelak, ia langsung membagi cerita ini pada teman-teman sekamarnya. "Mereka bilang iri, sih," akunya, "tapi ya ikut senang juga."
Ini cuma satu dari sekian momen yang menunjukkan perhatian khusus Prabowo pada program Sekolah Rakyat. Sepertinya, bagi Presiden, program ini bukan sekadar proyek administratif. Ia menaruh perhatian nyata, terutama pada anak-anak didiknya. Kunjungan spontan dan interaksi langsung seperti itu seolah menjadi caranya untuk memastikan komitmen itu sampai.
Surat-Surat yang Dibaca Langsung
Kedekatan itu juga terasa dari hal-hal sederhana. Misalnya, saat ia membaca surat dari Erni Andayani, siswi SRMP 10 Cibinong. Dalam unggahan Instagram Sekretariat Kabinet, terlihat Prabowo menyimak isi surat itu.
Erni menceritakan bagaimana Sekolah Rakyat mengubah hidupnya. Dulu, gambaran masa depan tampak buram. Kini, dengan fasilitas belajar yang lengkap dan makanan bergizi terjamin, ia bisa menatap hari esok dengan lebih tenang dan penuh harap.
Lalu ada Muhammad Daffa Rasyid dari SRMP 2 Bandung Barat. Di ulang tahun Presiden yang ke-74, Daffa mengirimkan surat ucapan. Prabowo membacanya dengan saksama. Dalam suratnya, Daffa tak cuma memberi selamat. Ia juga mendoakan kesehatan sang Presiden dan punya harapan sederhana: suatu hari nanti, Prabowo bisa berkunjung ke sekolahnya.
Wajah di Balik Foto: Kisah Naila
Komitmen ini mungkin berakar dari keprihatinan yang mendalam. Dalam sebuah acara halalbihalal di Balai Kartini, Prabowo pernah menunjukkan foto seorang anak perempuan bernama Naila. Di sebelahnya, terpampang gambar rumah yang sangat sederhana.
"Orang tuanya penghasilan di bawah Rp1 juta, padahal tanggungannya lima orang," ujarnya kala itu. Suaranya terdengar berat. "Yang menarik bagi saya, rumahnya seperti ini Naila masih bisa senyum."
Momen itu seperti menjadi pengingat baginya, sekaligus bagi semua yang hadir. "Ini perjuangan kita," tegas Prabowo. "Sisa hidup saya adalah untuk mengubah nasib Naila-Naila lain di Indonesia. Kalau ada yang tanya, 'apakah mungkin?', harus mungkin."
Artikel Terkait
Semeru Muntahkan Awan Panas Sejauh 5 Kilometer, Status Tetap Siaga
Korban Dibawah Umur Ditemukan Berlumur Lumpur Usai Diduga Diperkosa Teman di Sekadau
Cinta 10 Tahun Berakhir Tragis, Rumah Mantan Kekasih Dibakar di Tulungagung
Gempa 4,9 SR Guncang Melonguane di Kedalaman 82 Kilometer