"Proses hukum harus dilakukan tanpa kelonggaran, belas kasihan, atau toleransi," sambungnya dengan nada keras.
Lalu, dari seberang lautan, datang suara lain. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan dukungan terbuka untuk para demonstran.
"Iran sedang melihat kebebasan, mungkin seperti belum pernah sebelumnya. AS siap membantu!!!" kicau Trump.
Namun begitu, dukungan itu bukan sekadar kata-kata. Menurut laporan The New York Times dan The Wall Street Journal yang mengutip pejabat AS anonim Trump sejatinya sudah diberi sejumlah opsi militer untuk menyerang Iran. Keputusan akhirnya memang belum diambil, tapi situasinya jelas sangat rentan.
Peringatan dari Departemen Luar Negeri AS terdengar lebih langsung: "Jangan main-main dengan Presiden Trump. Ketika dia mengatakan akan melakukan sesuatu, dia sungguh-sungguh."
Jadi, di tengah gelapnya informasi dari dalam negeri Iran, tekanan justru datang dari segala arah. Dari dalam, ancaman hukuman mati. Dari luar, ancaman intervensi. Rakyat yang turun ke jalan terjepit di tengahnya, dalam sebuah krisis yang belum terlihat ujungnya.
Artikel Terkait
Iran Balas Ancaman Trump: AS dan Israel Jadi Sasaran Sah
Cemburu Buta Berujung Aib: Pacar Dianiaya dan Dipermalukan di Kendari
Iran Ancam AS dan Israel, Korban Kerusuhan Tembus 500 Jiwa
Piton Raksasa Telan Kambing Hidup-Hidup, Warga Buton Buru dan Tumpas