"Seorang korban baru-baru ini mengatakan kepada saya bahwa hal yang paling menyakitkan baginya adalah tidak ada uskup yang mau mendengarkannya," ungkap Paus Leo.
Memang, pelecehan itu sendiri sudah melukai. Tapi penolakan dan sikap dingin dari institusi, katanya, justru kerap memperpanjang penderitaan. "Seringkali skandal di Gereja terjadi karena pintu telah ditutup," tegasnya.
Konsistori yang dihadiri sekitar 170 kardinal ini sendiri membahas arah masa depan Gereja. Meski begitu, Paus menyelipkan pesan kuat tentang akuntabilitas dan empati. Sebagai tindak lanjut, ia sudah mengundang mereka untuk bertemu lagi akhir Juni nanti pertemuan yang rencananya akan diadakan rutin tiap tahun.
Paus Leo XIV sendiri baru memimpin Gereja sejak Mei lalu, menggantikan Paus Fransiskus yang wafat. Tampaknya, isu sensitif ini akan menjadi salah satu fokus perhatiannya.
Artikel Terkait
Menteri Fadli Zon Dorong Benteng Marlborough Jadi Pusat Budaya dan Edukasi
LPDP Masih Hitung Nilai Pengembalian Dana Beasiswa Alumni yang Kontroversial
Taspen Tegaskan Tak Ada Kenaikan Gaji Pensiun, Menaker Ingatkan Batas Waktu THR
Menteri Luar Negeri AS Soroti Program Rudal Iran Sebagai Masalah Besar