Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak berwenang mengenai status operasional tambang tersebut. Apakah legal atau justru ilegal. Pertanyaan dari AFP soal itu masih menggantung.
Nyawa seolah menjadi taruhan yang murah di banyak lokasi tambang Afghanistan. Kecelakaan fatal seperti ini bukan barang langka. Faktanya, para penambang seringkali harus bekerja dengan peralatan seadanya. Perlengkapan keselamatan? Itu barang mewah yang jarang terlihat.
Ingat saja pada Juli tahun lalu, di provinsi Baghlan bagian utara. Enam penambang tewas dan belasan lainnya luka-luka akibat runtuhnya tambang batu bara. Miris.
Padahal, negeri dengan lanskap berbatu ini sebenarnya menyimpan kekayaan yang luar biasa. Marmer, emas, batu mulia, batubara, semua ada. Bahkan, menurut penilaian AS dan PBB sekitar tahun 2010 hingga 2013, sumber daya alam Afghanistan termasuk tembaga dan lithium yang jadi incaran dunia diperkirakan bernilai fantastis: mencapai satu triliun dolar.
Namun begitu, di balik potensi kekayaan yang terkubur itu, yang sering muncul ke permukaan justru berita-berita pilu seperti ini. Kisah tentang nyawa yang melayang di kegelapan terowongan, jauh dari sorotan.
Artikel Terkait
Menteri Agama Tekankan Kolaborasi dengan Ormas di Pembukaan Muktamar Mathlaul Anwar
Presiden Prabowo Lantik Hakim Konstitusi, Anggota Ombudsman, dan Duta Besar
Perundingan AS-Iran di Islamabad Buntu, Kedua Pihak Saling Menyalahkan
Sekolah Rakyat Ubah Jalan Hidup Julio, Lepas dari Kenakalan Remaja