katanya.
Bagi Gus Ipul, anak-anak ini adalah calon Generasi Emas 2045 yang wajib dipelihara negara, sesuai amanat UUD 1945. Makanya, Kemensos yang memegang tanggung jawab penyelenggaraannya.
Di lapangan, program ini dirancang seperti miniatur pengentasan kemiskinan. Tak cuma sekadar sekolah. Para siswa, yang seluruhnya berasal dari keluarga terdata DTSEN desil 1 dan 2 tanpa seleksi akademik, mendapat laptop. Kelasnya pun memakai smartboard. Kurikulumnya tak hanya akademik, tapi juga pembentukan karakter dan pemetaan bakat.
Sementara untuk keluarganya, ada program pemberdayaan komprehensif. “Rumahnya nanti akan dibantu, orang tuanya jadi anggota Koperasi Desa Merah Putih, dapat bantuan sosial lengkap sesuai dengan periode tertentu, dapat PBI JKN, dapat makan bergizi dan cek kesehatan,” jelas Gus Ipul.
Hingga kini, sudah lebih dari 15 ribu siswa menempuh pembelajaran di 166 titik rintisan tadi. Tapi ini baru permulaan. Proses pembukaan titik rintisan baru masih terus berjalan, menuju target 500 titik pada 2029.
Di sisi lain, pembangunan Sekolah Rakyat permanen juga sudah dimulai di 104 lokasi. Targetnya, tahun 2027 nanti sudah ada 200 titik permanen yang bisa menampung hingga seribu siswa per sekolah. Dengan skema seperti ini, target akhir menampung 500 ribu siswa pun tampak lebih realistis untuk dicapai.
Yang tak kalah penting, pemerintah sudah menyiapkan jalur lanjutan bagi lulusannya. Ada beasiswa untuk pendidikan tinggi dan akses ke dunia kerja lewat kerja sama lintas sektor. Semua dirancang agar rantai kemiskinan benar-benar terputus.
“Ini kelihatannya sederhana, tetapi sangat mendasar. Maka sekolah rakyat menjadi salah satu yang harus kita sukseskan,”
pungkas Gus Ipul.
Artikel Terkait
Gelombang Bom Guncang SPBU Thailand Selatan, Empat Orang Terluka
Kemenag Tegaskan Awal Ramadan 2026 Tunggu Sidang Isbat, Bukan Kalender
Jenazah Terhalang Banjir, Petugas dan Warga Pikul Peti Lewat Genangan
Prabowo Resmikan Sekolah Rakyat, Gebrakan Pendidikan Gratis untuk Putus Rantai Kemiskinan