Pekan depan, Banjarbaru akan menjadi tuan rumah peluncuran resmi Program Sekolah Rakyat. Acara peresmiannya sendiri bakal dipusatkan di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru, yang lokasinya tak jauh dari lingkungan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS).
Menurut rencana, momentum ini akan dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, para menteri Kabinet Merah Putih, serta sejumlah kepala daerah. Rencananya, para siswa juga akan unjuk kebolehan dengan berbagai atraksi, mulai dari baris-berbaris, teater, paduan suara, hingga pidato dalam berbagai bahasa asing.
Nah, soal programnya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul sudah lebih dulu memberikan sinyal. Dalam sebuah Doa Bersama Mengawali Tahun 2026 di Gedung Aneka Bakti, Kemensos, Jakarta, Jumat lalu, ia mengungkapkan bahwa Sekolah Rakyat rintisan saat ini sudah beroperasi di 166 titik.
“Hari Senin nanti akan diresmikan atau diluncurkan secara resmi Sekolah Rakyat rintisan di 166 titik,”
kata Gus Ipul lewat keterangan tertulis pada Sabtu (10/1/2026).
Gagasan ini, jelasnya, datang langsung dari Presiden Prabowo. Intinya, memberi perhatian lebih pada kelompok masyarakat yang kerap terlewat dari proses pembangunan. Caranya? Dengan membuka akses pendidikan berkualitas untuk anak-anak sekaligus memberdayakan orang tuanya.
“Karena ini bagian dari pengentasan kemiskinan. Anaknya sekolah, keluarganya diberdayakan. Anaknya lulus, keluarganya naik kelas (dan) menjadi berdaya. Ini istimewa dan ini tentu legacy dari Bapak Presiden Prabowo,”
ujar Gus Ipul menegaskan.
Alasannya cukup mendasar. Data BPS menunjukkan lebih dari tiga juta anak usia sekolah dalam kondisi tidak sekolah, putus sekolah, atau berisiko putus sekolah. Mereka inilah yang menjadi sasaran program ini.
“Saya ingin sampaikan tiga juta lebih data BPS menunjukkan, anak-anak di usia sekolah mereka tidak sekolah, belum sekolah, putus sekolah dan berpotensi untuk putus sekolah. Nah sebagian di antara mereka itu sekarang berada di Sekolah Rakyat,”
katanya.
Bagi Gus Ipul, anak-anak ini adalah calon Generasi Emas 2045 yang wajib dipelihara negara, sesuai amanat UUD 1945. Makanya, Kemensos yang memegang tanggung jawab penyelenggaraannya.
Di lapangan, program ini dirancang seperti miniatur pengentasan kemiskinan. Tak cuma sekadar sekolah. Para siswa, yang seluruhnya berasal dari keluarga terdata DTSEN desil 1 dan 2 tanpa seleksi akademik, mendapat laptop. Kelasnya pun memakai smartboard. Kurikulumnya tak hanya akademik, tapi juga pembentukan karakter dan pemetaan bakat.
Sementara untuk keluarganya, ada program pemberdayaan komprehensif. “Rumahnya nanti akan dibantu, orang tuanya jadi anggota Koperasi Desa Merah Putih, dapat bantuan sosial lengkap sesuai dengan periode tertentu, dapat PBI JKN, dapat makan bergizi dan cek kesehatan,” jelas Gus Ipul.
Hingga kini, sudah lebih dari 15 ribu siswa menempuh pembelajaran di 166 titik rintisan tadi. Tapi ini baru permulaan. Proses pembukaan titik rintisan baru masih terus berjalan, menuju target 500 titik pada 2029.
Di sisi lain, pembangunan Sekolah Rakyat permanen juga sudah dimulai di 104 lokasi. Targetnya, tahun 2027 nanti sudah ada 200 titik permanen yang bisa menampung hingga seribu siswa per sekolah. Dengan skema seperti ini, target akhir menampung 500 ribu siswa pun tampak lebih realistis untuk dicapai.
Yang tak kalah penting, pemerintah sudah menyiapkan jalur lanjutan bagi lulusannya. Ada beasiswa untuk pendidikan tinggi dan akses ke dunia kerja lewat kerja sama lintas sektor. Semua dirancang agar rantai kemiskinan benar-benar terputus.
“Ini kelihatannya sederhana, tetapi sangat mendasar. Maka sekolah rakyat menjadi salah satu yang harus kita sukseskan,”
pungkas Gus Ipul.
Artikel Terkait
Guru Besar Jayabaya Desak Revisi UU Kepailitan, Fokus pada Restrukturisasi Daripada Likuidasi
Nenek 72 Tahun di Subang Tewas Terikat, Diduga Korban Perampokan
Komisaris Utama PT PAL Bengawan Kamto Ditahan Usai Putusan Hakim
Puluhan Rumah Rusak Parah Diterjang Puting Beliung di Bangka Barat