Genset dan 500 HP Dikirim ke Aceh untuk Pulihkan Komunikasi Pascabanjir

- Senin, 22 Desember 2025 | 13:54 WIB
Genset dan 500 HP Dikirim ke Aceh untuk Pulihkan Komunikasi Pascabanjir

Bantuan untuk korban banjir dan longsor di Sumatera kembali digelontorkan. Kali ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Telkomsel mengirimkan ratusan handphone dan puluhan genset. Fokusnya jelas: memulihkan jaringan dan memastikan komunikasi warga serta tim darurat tidak terputus.

Pengiriman dilakukan lewat udara, langsung menuju daerah yang paling membutuhkan. Menurut data terbaru, pemulihan jaringan di Sumatera Utara sudah mencapai 97 persen. Sementara di Sumatera Barat, angkanya bahkan mendekati 99 persen. Namun begitu, kondisi di Aceh berbeda. Pemulihan di sana baru sekitar 80 persen, dengan tantangan akses dan geografis yang jauh lebih berat.

Itu sebabnya, bantuan ini akan difokuskan di tiga kabupaten di Aceh: Aceh Tamiang, Gayo Lues, dan Bener Meriah. Di sinilah genset dan perangkat pendukung sangat dibutuhkan untuk menghidupkan kembali site telekomunikasi yang masih gelap.

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Komdigi, Fifi Aleyda Yahya, menegaskan percepatan pemulihan jaringan adalah bagian dari arahan Presiden agar negara benar-benar hadir pascabencana.

"Karena tujuannya adalah agar masyarakat di Aceh atau yang terdampak dengan banjir maupun longsor ini bisa berkomunikasi dengan keluarganya atau pihak lain dengan baik dan dengan tenang insyaAllah," ujar Fifi di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (22/12).

500 HP: Bukan Sekadar Gawai, Tapi Penghubung

Bantuan 500 handphone ini lahir dari cerita pilu di lapangan. Banyak warga dan relawan kehilangan atau mengalami kerusakan smartphone akibat terjangan banjir dan tanah longsor. Tanpa alat komunikasi, koordinasi jadi kacau dan rasa terisolasi kian menjadi.

Director of Human Capital Management Telkomsel, Indrawan Ditapradana, membeberkan rencana distribusinya. HP tersebut akan dipakai untuk dua hal: mendukung kerja tim pemulihan dan relawan, serta diberikan langsung kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

"Di sana pasti ada handphone yang mungkin terkena banjir, kemudian hilang dan lainnya, kita juga upayakan untuk membantu saudara-saudara kita," kata Indrawan.

Distribusinya gratis, tanpa pungutan biaya apa pun. Semua berdasarkan data riil di lapangan yang dikoordinasikan dengan pemerintah daerah dan satgas setempat.

100 Genset: Sumber Tenaga di Tengah Kegelapan

Lalu ada 100 unit genset berkapasitas 10 kVA. Kehadirannya krusial. Banyak lokasi terdampak masih gelap gulita akibat pemadaman listrik berkepanjangan. Tanpa listrik, mustahil menyalakan menara telekomunikasi.

Genset-genset ini tak cuma untuk kepentingan operator. Dengan ukurannya yang relatif mobile, mereka juga bisa dimanfaatkan warga sekitar. Untuk mengisi daya ponsel, penerangan sederhana, atau mendukung aktivitas di posko dan dapur umum. Selain genset dan HP, dikirim juga baterai dan rectifier, masing-masing 50 unit, sebagai bagian dari upaya perbaikan infrastruktur.

Bukan Aksi Satu Kali, Tapi Komitmen Berlanjut

Rupanya, ini bukan pengiriman pertama. Menurut Telkomsel, ini sudah yang keempat sejak pertengahan Desember 2025 lalu. Bahkan, pengiriman kelima sudah disiapkan, rencananya membawa bantuan tambahan seperti Al-Qur’an, sajadah, mukena, dan ribuan pakaian baru untuk warga Aceh.

Di luar bantuan perangkat, upaya pemulihan juga menyentuh hal-hal mendasar. Telkomsel terlibat dalam pembangunan sumur bor dan dapur umum. Ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana dilihat secara holistik bukan hanya soal sinyal, tapi juga soal air bersih dan makanan.

Kolaborasi seperti ini memperlihatkan satu hal: di tengah krisis, telekomunikasi telah berubah menjadi kebutuhan kemanusiaan yang setara dengan air dan logistik. Menjaga sinyal tetap hidup adalah menjaga harapan tetap menyala.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar