Ambil contoh Repong damar di Krui, Lampung. Di sana ditemukan 39 jenis pohon dengan kerapatan 245 pohon per hektar. Tutupan kanopi utamanya mencapai 88-130% bahkan lebih tinggi dari hutan primer yang biasanya sekitar 60%. Subkanopinya 5-34%, dengan lapisan bawah 12%, dan mengandung 15-50% pohon hutan alam.
Atau lihat tembawang di Kalimantan Barat. Struktur vertikalnya mencapai 70 meter, didominasi pohon pada ketinggian 35-45 meter, dengan keanekaragaman lebih dari 250 spesies. Lalu ada sistem parak di Maninjau, Sumatera Barat, yang membentuk untaian produksi berlapis dengan kanopi hingga 40 meter dan tutupan 90%.
Fakta-fakta itu membuktikan AAN bukan sekadar wacana. Sebagai corak khas kehutanan autentik, watak dasarnya terwujud dalam delapan karakter pokok yang saling terkait.
Pertama, kemampuannya mereproduksi ekosistem hutan, bukan mengeksploitasinya. Kedua, struktur tegakannya yang kompleks dan berlapis. Ketiga, integrasi antara produktivitas dan keberlanjutan.
Keempat, basisnya adalah pengetahuan leluhur Nusantara dari praktik perladangan berputar. Kelima, daya pulih ekosistemnya tinggi. Keenam, ketahanan ekologisnya terjaga untuk jangka panjang.
Ketujuh, ada keadilan sosial dan ekonomi untuk masyarakat lokal. Terakhir, sistem ini punya daya saing ekonomi hingga ke pasar ekspor, tanpa mengorbankan integritas ekologi dan budaya.
Memang, dekolonisasi scientific forestry sering dianggap utopis. Terlalu ideal bagi dunia kehutanan yang masih dikungkung warisan kolonial dan varian barunya. Tapi, banyak ide revolusioner justru lahir dari impian yang awalnya dianggap mustahil. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap distopia warisan kolonial itu sendiri.
Spirit dekolonisasi pada dasarnya membangkitkan ingatan kolektif Nusantara akan jati dirinya. Maka, rintangan terberatnya bukan pada hal teknis, melainkan pada keberanian kita untuk berhenti merasa inferior terhadap pengetahuan sendiri. Mental keilmuan dari paradigma kolonial, menurut telaah AAN, justru menunjukkan ketidakmampuan sistem dalam mempertahankan eksistensi ekosistem hutan (Suryanto, 2025).
Penutup
Jadi, badai tropis ilmu kehutanan ini adalah panggilan. Terutama bagi kampus, para pembuat kebijakan, dan seluruh anak bangsa. Kita harus berhenti jadi pewaris pasif. Sudah waktunya menjadi pencipta arah baru peradaban ekologis. Kementerian Kehutanan pun dituntut kesadarannya untuk menerima angin perubahan ini.
Berbagai kebijakan lintas era pembangunan perlu ditinjau ulang secara komprehensif. Wacana hutan untuk pangan, energi, dan air tak cukup hanya mengandalkan agroforestri dengan konsep lama. Ilmu dan mandat yang dirujuk dalam banyak kebijakan masih berlandaskan agroforestri rumusan era 1970-an, yang DNA-nya masih menginduk kuat pada hutan ilmiah warisan kolonial.
Kebangkitan kehutanan Indonesia hanya mungkin jika kita berani berdamai dengan pengetahuan leluhur. Agroforestri Autentik Nusantara bukan sisa masa lalu. Ia justru adalah horizon masa depan.
Manuskrip akbar AAN membuktikan satu hal penting: ekosistem hutan bisa direproduksi, bukan cuma dieksploitasi. Produktivitas bisa berjalan beriringan dengan keutuhan ekosistem. Ilmu yang berakar pada Nusantara justru lebih ampuh menjawab krisis ekologis global.
Dengan begitu, hutan bisa kembali menjadi sumber kehidupan. Dan bangsa ini, semoga, bisa kembali menemukan martabatnya.
Priyono Suryanto. Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Ketua Umum Masyarakat Agroforestri Indonesia.
Artikel Terkait
Dua Pelaku Penusukan di Kemang Diringkus di Surabaya Saat Hendak Kabur
Jadwal Imsakiyah Digital 2026 Sudah Rilis, Ini Cara Mengeceknya
Anggaran Aceh Tak Dipangkas, Prabowo Restui Usulan Relaksasi
Taksi Listrik Ngamuk, Hancurkan Restoran Ayam Goreng di Tangerang