Laporan dari Islamophobia Register Australia menggambarkan peningkatan yang drastis. Dari rata-rata satu atau dua laporan per hari, kini menjadi sekitar 18 laporan harian sejak 14 Desember. Rentangnya luas: dari grafiti simbol Nazi dan kata-kata kotor di dinding masjid Brisbane, vandalisme di sekolah Muslim Melbourne, hingga penemuan beberapa kepala babi di pemakaman Muslim di New South Wales.
Mohamed Mohideen, Presiden Islamic Council of Victoria (ICV), mengaku kewalahan. Mereka menerima puluhan panggilan telepon ancaman dan terpaksa menutup kolom komentar di media sosial karena banjir ujaran kebencian.
Ia juga menyoroti penggunaan istilah-istilah seperti "Islam radikal" yang menurutnya justru memicu ketakutan buta. "Orang-orang jadi yakin Muslim adalah musuh, penyebab semua masalah," keluhnya.
ANIC dalam pernyataannya menegaskan, "kemarahan selektif" hanya akan memperdalam perpecahan. Mereka juga dengan keras membedakan Islam dari pelaku teror, menekankan bahwa ISIS atau Daesh tidak pantas dikaitkan dengan nama agama.
Mencari Solusi di Tengah Ketakutan
Bagi Selima, penjagaan polisi di masjid saja tidak cukup. Perlu ada upaya pendidikan yang lebih mendasar kepada publik tentang apa itu Islam sebenarnya mirip dengan program pendidikan anti-Semitisme yang diumumkan pemerintah setelah serangan Bondi.
Pakar kontra-terorisme Greg Barton dari Deakin University melihat kompleksitas masalah ini. Para pemimpin Muslim, katanya, terjepit di antara kebutuhan mengutuk kekerasan dan mencegah stigma kolektif. Tapi ia mengingatkan, radikalisasi dan ekstremisme adalah masalah global yang bisa menimpa komunitas mana pun, dan tindakan individu tidak mewakili seluruh kelompok.
Di tingkat pemerintah, rekomendasi dari laporan Utusan Khusus untuk Mengatasi Islamofobia, Aftab Malik, yang berisi 54 poin termasuk pendidikan anti-rasisme sedang dipertimbangkan. Harapannya jelas: agar masyarakat paham bahwa Muslim Australia adalah warga biasa, sama seperti yang lain, yang juga ingin hidup dengan damai dan tanpa rasa takut.
Selima, yang kini lebih berhati-hati setiap keluar rumah, berharap pemahaman itu segera tumbuh. "Dengan memahami kami lebih baik," katanya, "masyarakat akan sadar kami hanyalah warga Australia biasa."
Artikel Terkait
KPK Tetapkan Dua Tersangka, Kerugian Negara Akibat Kasus Kuota Haji Masih Dihitung
Badai Tropis dan Guncangan Epistemik: Saatnya Ilmu Kehutanan Indonesia Berpaling dari Warisan Kolonial
Vonis Jiwasraya: Mantan Dirjen Anggaran Divonis 1,5 Tahun, Jaksagung Pertimbangkan Banding
Kapolda Riau Usulkan Koperasi untuk Legalkan Tambang Rakyat di Kuansing