Nah, proyek ambisius ini ternyata cuma satu bagian dari paket yang lebih besar. Prasetyo menambahkan bahwa PSEL termasuk dalam 18 proyek hilirisasi strategis yang akan digarap pada periode Januari hingga Maret 2026. Proyek-proyek ini diklaim sudah melewati tahap prastudi kelayakan. Nilai investasinya? Sungguh fantastis, mencapai Rp 600 triliun. Dan yang akan memimpin realisasi investasi ini adalah Danantara Indonesia.
Secara sederhana, PSEL adalah proses mengolah sampah yang sudah tidak bisa didaur ulang lagi. Melalui berbagai teknologi, sampah itu diubah menjadi sumber energi, bisa listrik, panas, atau bahan bakar alternatif. Harapannya jelas: selain mengatasi masalah sampah, teknologi ini juga bisa bantu kurangi ketergantungan kita pada energi konvensional seperti batu bara, sekaligus mendukung kemandirian energi nasional.
Di sisi lain, pemerintah ternyata tidak berhenti di situ. Prasetyo juga menyebutkan bahwa dalam waktu dekat akan dilakukan groundbreaking untuk proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Intinya, batu bara dengan kalori rendah akan diolah jadi gas alternatif. Targetnya, untuk menekan impor dan kebutuhan akan gas LPG.
"Kemudian juga ada beberapa program yang berkenaan dengan energi, program-program di bidang pertanian juga," tutup Prasetyo, memberi sinyal bahwa masih ada sejumlah agenda lain yang sedang disiapkan.
Artikel Terkait
Tembakan ICE di Minneapolis: Terorisme Domestik atau Tragedi di Jalanan?
Kapendam Udayana Buka Suara Soal Video Viral Penjemputan Ayah Prajurit
Ayah Prada Lucky Chepril Ditangkap Usai Dilaporkan Istri Soal KDRT dan Hinaan di TikTok
Ayah Prajurit Viral Diamankan Denpom Usai Dilaporkan Istri Sendiri