Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Tapanuli Selatan dan Aceh Tamiang di penghujung tahun 2025, tak bisa dipandang sebelah mata. Wilayah-wilayah itu memang porak-poranda, menanggung beban terberat dari bencana yang melanda Sumatra. Korban jiwa, infrastruktur hancur, kehidupan sosial-ekonomi warga pun lumpuh. Di tengah situasi seperti itu, kehadiran seorang kepala negara punya arti yang jauh lebih dalam dari sekadar pencitraan.
Secara kebijakan, kedatangannya bukan cuma gestur simbolis belaka. Itu adalah alat kepemimpinan. Sebuah penegasan otoritas yang, mau tak mau, memaksa seluruh lini birokrasi bergerak lebih cepat. Efek koordinatifnya yang terasa, itulah yang memberi makna. Bukan sekadar emosi atau simpati yang ditunjukkan.
Pengalaman dari berbagai krisis sebelumnya sering membuktikan satu hal: masalahnya jarang terletak pada aturan yang tak ada. Justru, yang kerap terjadi adalah lemahnya sinkronisasi di lapangan. Nah, di sinilah peran Presiden datang. Kehadirannya apalagi jika berulang bisa memotong birokrasi yang berbelit, menyelaraskan kerja kementerian, BNPB, TNI-Polri, dan pemda. Arahnya jadi lebih jelas, setidaknya untuk sementara.
Efeknya sendiri sudah mulai kelihatan. Ambil contoh Pondok Pesantren Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang. Beberapa waktu lalu, tempat itu viral. Halamannya dipenuhi kayu, lumpur, dan sisa-sisa banjir bandang yang mengerikan.
Tapi lihat sekarang. Dalam waktu yang relatif singkat, area pesantren itu sudah bersih dan kembali berfungsi.
Perubahan ini tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Ada kerja terpadu dari aparat, relawan, dan pemerintah daerah yang bergerak lebih gesit. Dan semua itu, menurut sejumlah saksi di lapangan, mendapatkan dorongan ekstra setelah perhatian dan arahan langsung dari Presiden.
Kasus ini menunjukkan sesuatu: kehadiran pemimpin tertinggi, terlebih jika lebih dari sekali, benar-benar meningkatkan sense of urgency di lapangan. Koordinasi jadi lebih rapat. Prioritas lebih terang. Eksekusi pun lebih fokus. Dalam konteks penanganan bencana, nilai tambahnya ya di situ. Bukan pada sorotan kamera, tapi pada percepatan kerja nyata.
Namun begitu, kita juga harus membaca kehadiran ini dengan kepala dingin. Ia bukan tujuan akhir, melainkan pemantik. Ukuran keberhasilannya bukan cuma pada kehadiran fisik sang pemimpin, tapi pada apa yang menyusul setelahnya. Pembagian peran yang jelas, pendataan yang cepat, dan tindak lanjut yang pasti. Kehadiran Presiden pada dasarnya menegaskan prioritas: pemulihan bencana adalah agenda utama negara, bukan isu sampingan.
Artikel Terkait
Pemeriksaan dr. Richard Lee Dihentikan Dini Hari, Kesehatan Tersangka Memburuk
Pemeriksaan Richard Lee Terhenti di Tengah Malam, Penahanan Ditunda
Truk Kontainer Terguling di Tanjakan Pandeglang, Sopir Ungkap Penyebabnya
Pemeriksaan dr. Richard Lee Terpaksa Dihentikan, 73 Pertanyaan Sudah Terjawab