Ledakan Mengguncang Caracas, Maduro Tuduh AS Lancarkan Agresi Militer

- Minggu, 04 Januari 2026 | 06:15 WIB
Ledakan Mengguncang Caracas, Maduro Tuduh AS Lancarkan Agresi Militer

Suasana di Caracas berubah mencekam pada Sabtu dini hari, 3 Januari. Setidaknya tujuh ledakan mengguncang, diselingi deru pesawat yang terbang rendah. Dari beberapa sudut kota, kepulan asap tebal terlihat menjulang ke langit yang masih gelap.

Menanggapi situasi itu, Presiden Venezuela Nicolas Maduro tak lama kemudian menetapkan status keadaan darurat. Ia menyebut insiden tersebut sebagai bagian dari "agresi militer yang sangat serius" yang dilancarkan oleh Amerika Serikat terhadap ibu kota negaranya.

Pernyataan resmi pemerintah Venezuela, yang dikutip dari sejumlah kantor berita, terasa keras dan penuh kecaman.

"Venezuela menolak, menyangkal, dan mengecam di hadapan komunitas internasional, agresi militer yang sangat serius yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat saat ini terhadap wilayah dan rakyat Venezuela,"

Begitu bunyi salah satu kutipan pernyataan tersebut. Mereka menuduh serangan itu menyasar tidak hanya Caracas, tapi juga wilayah negara bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira.

Di sisi lain, Washington sendiri sampai saat ini masih bungkam. Mereka belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan Caracas. Namun, laporan dari beberapa media besar AS seperti CBS News dan Fox News mengungkapkan cerita yang berbeda. Menurut laporan itu, beberapa pejabat AS yang enggan disebut namanya justru mengonfirmasi keterlibatan militer Amerika dalam serangkaian serangan di ibu kota Venezuela tersebut.

Maduro, berdasarkan pernyataan pemerintahnya, telah menandatangani penetapan "keadaan darurat eksternal". Ia juga memerintahkan agar semua rencana pertahanan nasional dijalankan. Langkah ini diambil untuk menghadapi apa yang mereka sebut sebagai ancaman dari luar.

Tak berhenti di situ, pemerintah juga langsung menggerakkan basis massa pendukungnya. Seruan untuk turun ke jalan dikumandangkan dengan lantang.

"Rakyat turun ke jalan!"

Seruan itu muncul tak lama setelah gemuruh ledakan terdengar. Pemerintahan Bolivarian mendesak semua kekuatan politik dan sosial di Venezuela untuk memobilisasi diri. Tujuannya jelas: menolak apa yang mereka sebut sebagai "serangan imperialis".

"Rakyat Venezuela dan Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian, dalam kesatuan militer-polisi-rakyat yang sempurna, dikerahkan untuk menjamin kedaulatan dan perdamaian," imbuh pernyataan itu lagi.

Mereka juga berencana membawa kasus ini ke forum internasional. Venezuela akan menyampaikan pengaduan resmi ke Dewan Keamanan PBB, Sekjen PBB, serta berbagai badan dunia lainnya. Tujuannya untuk menuntut kecaman global terhadap Amerika Serikat.

Situasi masih berkembang. Sementara Caracas bersiap dengan status darurat dan mobilisasi massanya, dunia menunggu respons lebih jelas dari Washington. Ketegangan antara kedua negara ini, sekali lagi, memanas dengan cepat.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar