Hebatnya, baik militer Sudan maupun RSF sama-sama bungkam. Belum ada pernyataan resmi yang keluar dari kedua pihak mengenai tragedi ini.
Di sisi lain, situasi di Sudan secara keseluruhan makin panas. Konflik yang sudah berlarut-larut sejak April 2023 antara tentara dan RSF terus memakan korban. Puluhan ribu tewas, hampir 12 juta orang terpaksa mengungsi krisis kemanusiaan yang disebut-sebut sebagai terbesar di dunia saat ini.
Serangan di Darfur Utara ini terjadi justru ketika pertempuran di daerah lain makin menghebat. Intensitasnya sedemikian rupa, sampai-sampai para pekerja bantuan harus dievakuasi dari Kadugli, kota di selatan yang terkepung dan dilanda kelaparan. Evakuasi mereka dilakukan pada hari Minggu, sehari setelah pasar Al-Harra berubah jadi ladang pembantaian.
Nuansa perang yang tak kunjung usai ini benar-benar terasa. Setiap berita yang datang seolah hanya menambah daftar panjang penderitaan warga sipil yang terjebak di tengah baku tembak.
Artikel Terkait
Pasca-Lebaran 2026, Wisata Samosir Dibanjiri 65 Ribu Kunjungan dalam 6 Hari
4,2 Juta Warga Jakarta Tak Mudik, Pemerintah Dorong Wisata Lokal
Volume Penumpang Mudik di Terminal Kalideres Anjlok 51 Persen
Herdman Bawa Televisi ke Pinggir Lapangan, Rizky Ridho: Pengalaman Pertama Saya