"Sebagus apapun konten kita, muatannya kayak apa, ketika gagal nge-grab attention dalam 3 detik, udah orang nggak nonton," ungkap Dhanu.
Ia lalu memaparkan rumus sederhana: setiap konten butuh hook yang memikat, body yang padat, dan call to action yang jelas. Satu saran lagi, libatkan generasi muda atau Gen Z dalam proses kreatif. Mereka, kata Dhanu, paham betul gelombang percakapan di dunia digital.
Di sisi lain, Karel Anderson dari detikcom mengingatkan agar euphoria media sosial tidak mengaburkan hal mendasar. Memaksimalkan platform itu penting, tapi branding perusahaan harus tetap jadi prioritas utama.
"Jangan kejar trending tapi utamakan branding," tegas Karel.
Pesan itu seolah menjadi benang merah dari seluruh workshop. Acara yang juga menghadirkan pembicara seperti Alfito Deannova Gintings (Pimpinan Redaksi detikcom) dan Desi Anwar (CNN Indonesia) ini bukan cuma sekadar pelatihan biasa. Lebih dari itu, ini adalah upaya untuk menyamakan visi dan menyiapkan lini terdepan komunikasi perusahaan agar lebih luwes dan manusiawi dalam menyapa publik.
Artikel Terkait
Gen Z Beralih ke Soft Saving, Metode Menabung Fleksibel di Tengah Tekanan Ekonomi
Polri Pastikan Lalu Lintas Terkendali Saat Puncak Arus Balik Lebaran
Pelatih Soroti Masalah Konsistensi dan Mental Putri Usai Final Swiss Open
Menkominfo Pastikan Layanan Internet Stabil Selama Arus Balik Lebaran 2026