Nah, poin paling keras justru datang ketika dia menyentuh urusan pribadi. Bahlil berjanji tak akan pernah memanfaatkan posisinya sebagai Ketua Umum untuk mengurus kepentingan atau bisnisnya sendiri. "Insyaallah tidak akan pernah," tegasnya.
"Kalau itu terjadi, mendingan saya enggak usah jadi ketua umum partai," sambung Bahlil. Baginya, prinsip itu mutlak. Sejak kecil, mentalnya sudah dibentuk untuk mandiri. "Saya dilahirkan bukan untuk diurus, tapi untuk mengurus," ujarnya.
Dia lalu menegaskan bahwa partai adalah aset bangsa. Tujuannya cuma satu: politik kesejahteraan. Bukan politik yang licik atau penuh tipu muslihat. Karena itu, semua kader diminta menjaga marwah partai.
Pesan terakhirnya jelas. Jika sang ketua umum saja dilarang keras memakai partai untuk keuntungan pribadi, apalagi para kader di bawahnya. "Kalau ketua umum saja enggak boleh, apalagi yang lain," perintah Bahlil menutup pidatonya.
Artikel Terkait
Ratusan Anak Jakarta Nobar Pelangi di Mars, Wagub Rano Karno Dorong Planetarium Jadi Bioskop Edukatif
Korlantas Siap Terapkan One Way Nasional di Tol Trans Jawa Jika Arus Balik Membeludak
Pemerintah Tegaskan Subsidi BBM Belum Dibatasi, Harga Dipertahankan
Debut Herdman di Kandang, Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts & Nevis