Upaya itu diklaim sudah berjalan. Tim medis dikerahkan untuk melakukan lokalisasi agar penyakit campak tidak menyebar luas. Di sisi lain, Dinas Kesehatan juga bersiaga dengan menyiapkan tenaga surveilans. Langkah ini penting untuk mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB).
Tak cuma mengantisipasi, bantuan terus dikirim. Obat-obatan dan tenaga medis tambahan didistribusikan ke daerah-daerah yang paling membutuhkan. Meski begitu, situasinya tetap rentan.
"Yang paling banyak di pengungsian itu tiga penyakit: ISPA, gatal-gatal, dan diare," tambah Ferdiyus menegaskan.
Jadi, meski KLB belum terjadi, kewaspadaan harus tetap maksimal. Ancaman kesehatan di tengah bencana seperti ini nyata adanya, dan bisa dengan mudah menjadi krisis kedua yang tak kalah pelik.
Artikel Terkait
TNI Bangun Ulang Jembatan Gumuzo di Nias Utara, Akses Vital Kembali Pulih
Energi Watch: Konversi ke Kompor dan Kendaraan Listrik Bisa Hemat Subsidi Ratusan Miliar
Arus Balik H+5 Masih Padat, Pemudik di Km 18 Japek Selatan Beristirahat di Tengah Lelah Perjalanan
Panglima TNI Ambil Alih Langsung Posisi Kabais di Tengah Kasus Penyegelan Aktivis