"Nah, mikir dong. Kan mesti kalau ada mau diberi air, jadi mie rebus, ya berarti apa yang mesti ada? Kan untuk merebusnya. Ya kompor kayak apa? Maksud saya, kan harus ada api. Betul apa tidak?," ucapnya.
Narasi ini jadi lebih menarik karena konteks bencana yang dia saksikan saat itu adalah bencana 'kering', seperti kebakaran. Bayangkan, di area yang rawan api, harus menyiapkan kompor untuk memasak. Risikonya jelas besar.
"Nah, padahal keadaannya bencana kering. Kering itu bisa kebakaran, bisa apa dan lain sebagainya. Jadi sangat-sangat real. Jadi saya bilang, ya enggak dah," katanya.
Pengalaman itulah yang mendasari instruksinya kepada relawan Baguna, sayap relawan PDIP. Intinya sederhana: turun ke lokasi, langsung buka dapur umum.
"Di Baguna ini kan saya buat dapur umum. Jadi tidak ada perintah lagi. Begitu Bagunan turun, harus buka dapur umum. Dan pada waktu seperti sekarang, dapur umumnya harus dapur umum dengan masakannya itu basah," imbuh Megawati.
Cerita singkat ini, di luar segala nuansa politik, sebenarnya menyimpan pelajaran mendasar tentang logistik dan empati dalam penanganan bencana. Bantuan yang tepat, pada akhirnya, adalah yang benar-benar bisa digunakan.
Artikel Terkait
Bayi Nyaris Dibawa Kabur, Pelaku Diduga Mabuk Narkoba di Penjaringan
Salju Maut Jepang Tewaskan 30 Nyawa, Nenek 91 Tahun Tertimbun 3 Meter
Tragedi Ponorogo: Diduga Bunuh Ibu Kandung, Pemuda Kabur dan Hilang di Laut Gunung Kidul
Direktur BUMN Warga Asing Juga Wajib Lapor Harta ke KPK