"Nah, mikir dong. Kan mesti kalau ada mau diberi air, jadi mie rebus, ya berarti apa yang mesti ada? Kan untuk merebusnya. Ya kompor kayak apa? Maksud saya, kan harus ada api. Betul apa tidak?," ucapnya.
Narasi ini jadi lebih menarik karena konteks bencana yang dia saksikan saat itu adalah bencana 'kering', seperti kebakaran. Bayangkan, di area yang rawan api, harus menyiapkan kompor untuk memasak. Risikonya jelas besar.
"Nah, padahal keadaannya bencana kering. Kering itu bisa kebakaran, bisa apa dan lain sebagainya. Jadi sangat-sangat real. Jadi saya bilang, ya enggak dah," katanya.
Pengalaman itulah yang mendasari instruksinya kepada relawan Baguna, sayap relawan PDIP. Intinya sederhana: turun ke lokasi, langsung buka dapur umum.
"Di Baguna ini kan saya buat dapur umum. Jadi tidak ada perintah lagi. Begitu Bagunan turun, harus buka dapur umum. Dan pada waktu seperti sekarang, dapur umumnya harus dapur umum dengan masakannya itu basah," imbuh Megawati.
Cerita singkat ini, di luar segala nuansa politik, sebenarnya menyimpan pelajaran mendasar tentang logistik dan empati dalam penanganan bencana. Bantuan yang tepat, pada akhirnya, adalah yang benar-benar bisa digunakan.
Artikel Terkait
Persiapan Sterilisasi Jalur Tol Cipali Jelang Pemberlakuan Sistem Satu Arah ke Jakarta
Sejumlah Bank Tetap Buka dengan Jam Terbatas Selama Libur Lebaran 2026
TMII Catat 18.000 Pengunjung di Hari Libur Lebaran, Target Harian 21.000
Fokus Timnas Indonesia Beralih ke FIFA Series Usai Laga Klub Para Pemain