Kerugian material pun terus membengkak. Angkanya sekarang sudah melampaui Rp 17 triliun. Kerusakannya menyeluruh, mulai dari jembatan yang putus, sawah gagal panen, hingga fasilitas publik seperti sekolah dan rumah sakit yang terendam banjir.
Menghadapi Natal dan Tahun Baru, Bobby mengaku sudah mengantisipasi gejolak harga. Logistik dikirim lebih awal ke daerah-daerah yang jadi jalur utama, seperti Sibolga dan Tapanuli Tengah, untuk mencegah lonjakan harga yang tak terkendali.
"Kami sudah kirimkan logistik untuk menghindari kenaikan harga yang mendadak tinggi. Memang di beberapa daerah sudah terjadi kenaikan, dan itu yang kita intervensi," katanya.
Lalu, bagaimana dengan wacana menetapkan ini sebagai bencana nasional? Bobby menilai dukungan pusat selama ini sudah sangat nyata. Bantuan helikopter, jembatan darurat Bailey, logistik, hingga BBM terus mengalir.
"Kekuatan yang sudah diberikan oleh negara hari ini sangat membantu," ujarnya.
Namun begitu, ia berpandangan penetapan status itu bukan solusi ajaib. Tantangan di lapangan, seperti cuaca buruk dan medan terjal, tetap ada. Jembatan darurat sekalipun bisa hanyut jika hujan deras kembali mengguyur.
"Yang terpenting sekarang aksesnya terbuka supaya alat berat bisa masuk," imbuhnya.
Di kesempatan lain, Bobby juga menyoroti soal penataan kota Medan. Ia mendorong Pemkot untuk menertibkan bangunan liar yang dinilai merusak pemandangan dan berpotensi menimbulkan masalah keamanan.
"Tempat ini kalau malam gelap dan potensi kegiatan yang meresahkan tinggi. Setelah dicek, izinnya tidak ada. Jadi silakan ditertibkan untuk estetika kota," kata Bobby.
Artikel Terkait
Tragis di Norwegia: Dua Nyawa Melayang, Pengemudi Indonesia Ditahan Usai Tabrakan Maut
Bamsoet Soroti Langkah Prabowo Perkuat Bursa di Tengah Guncangan MSCI
Rakornas 2026 di Sentul: Kunci Sinergi Pusat-Daerah Menuju Indonesia Emas
Kisah Penculikan Bocah Bekasi Berakhir di Atas Bus Bandung-Merak