Lima belas nyawa melayang, termasuk seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun. Itulah korban mengerikan dari penembakan di Bondi Beach, Sydney, pada Minggu (14/12) lalu. Di tengah kepanikan, muncul seorang pahlawan tak terduga: seorang penjual buah. Siapa dia, dan bagaimana aksinya menghentikan salah satu pelaku?
Serangan itu terjadi tepat saat komunitas Yahudi setempat berkumpul untuk merayakan awal Hanukkah. Suasana sukacita berubah jadi mimpi buruk dalam sekejap.
Polisi New South Wales dengan cepat menyatakan insiden ini sebagai aksi teror. Yang mengejutkan, kedua pelaku ternyata memiliki hubungan darah mereka adalah ayah dan anak.
Sang ayah, berusia 50 tahun, dilaporkan tewas di tempat kejadian. Sementara putranya yang berusia 24 tahun masih berjuang antara hidup dan mati di rumah sakit, kondisinya kritis.
Perdana Menteri Anthony Albanese tak ragu menyebutnya sebagai "tindakan kejahatan murni". "Ini penargetan yang disengaja," ujarnya, menekankan serangan terhadap komunitas Yahudi tersebut.
Rekaman video yang beredar, diverifikasi oleh tim BBC Verify pimpinan Benedict Garman, memberikan gambaran jelas tentang kekacauan yang terjadi. Di antara korban jiwa adalah Rabbi Eli Schlanger, kelahiran Inggris, seperti dikonfirmasi keluarganya kepada BBC.
Profil Dua Pelaku: Ayah dan Anak
Jadi, siapa sebenarnya mereka? Pejabat Australia mengungkap duo penembak itu adalah ayah dan anak yang sengaja menargetkan perayaan Hanukkah.
PM Albanese dengan tegas menyebut tragedi ini sebagai "aksi antisemitisme... terorisme di pantai kita."
Pelaku yang lebih tua ditembak mati polisi. Anaknya, seperti disebutkan, masih kritis.
Peristiwa ini mengguncang Australia, negara yang jarang mengalami penembakan massal. Sejak pembantaian Port Arthur 1996 yang menewaskan 35 orang, Bondi Beach menjadi insiden paling mematikan.
Polisi masih menyelidiki motif pastinya. Yang jelas, pihak berwenang enggan merinci identitas mereka lebih jauh selain status kekerabatan dan latar belakang imigrasi.
Menteri Dalam Negeri Tony Burke memberi sedikit petunjuk: sang anak lahir dan besar di Australia. Ayahnya datang pada 1998 dengan visa pelajar, yang kemudian beralih menjadi visa pasangan dan akhirnya izin tinggal permanen.
Soal motif, ada petunjuk samar. PM Albanese menyebut si anak berusia 24 tahun pernah "diperiksa" pada Oktober 2019 terkait dugaan keterkaitan dengan "pihak lain". Namun, pemeriksaan waktu itu menyimpulkan tidak ada ancaman berlanjut atau risiko kekerasan. Albanese tak mau menjabarkan lebih detail siapa "pihak lain" tersebut.
Kedua pelaku diketahui tinggal di Bonnyrigg, suburb di barat daya Sydney. Rumah bata satu lantai dengan pagar krem itu tercatat sebagai alamat mereka. Namun, belakangan mereka pindah ke properti sewaan jangka pendek di Campsie. Polisi menduga persiapan serangan dilakukan di sana.
Para tetangga di Bonnyrigg kaget bukan main. "Anak saya berteriak, 'Bu, lihat ke luar!'" kenang Lemanatua Fatu yang tinggal di seberang. "Lalu saya lihat banyak polisi, mobil, sirene. Mereka disuruh keluar."
"Saya lihat beritanya dan pikir, ya ampun, tidak mungkin itu mereka," tambah Fatu, yang sering melihat si anak muda membuang sampah. "Kami hidup biasa saja di sini. Lingkungannya baik."
Kronologi Kekacauan di Pantai
Semua berawal sekitar pukul 18.47 waktu setempat. Polisi NSW kebanjiran laporan tentang penembakan di Archer Park, Bondi Beach. Mereka segera meminta warga berlindung dan menjauhi area tersebut.
Video yang beredar menunjukkan ratusan orang berlarian panik meninggalkan pantai, teriakan bersahutan diiringi bunyi tembakan.
Rekaman lain yang diverifikasi BBC memperlihatkan dua penembak melepaskan tembakan dari sebuah jembatan kecil yang menghubungkan tempat parkir ke pantai. Kekacauan pun merajalela.
Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu adegan heroik. Seorang saksi mata berhasil mencegat salah satu pelaku bersenjata, merebut senjatanya, dan mengarahkan senjata itu ke si pelaku. Pelaku itu kemudian mundur ke arah jembatan, tempat rekannya menembak.
Pria pemberani itu kemudian teridentifikasi sebagai Ahmed al Ahmed, seorang pemilik toko buah dan ayah dua anak.
Keluarganya memberi tahu 7News Australia bahwa Ahmed masih dirawat di rumah sakit usai operasi akibat luka tembak di lengan dan tangannya.
Perdana Menteri NSW Chris Minns memujinya sebagai "pahlawan sejati".
"Saya yakin banyak nyawa terselamatkan malam ini karena keberaniannya," kata Minns dalam konferensi pers.
Di rekaman yang sama, terlihat seorang pria lain yang terluka melarikan diri saat polisi tiba dan mulai menembak balik. Video lain menunjukkan petugas polisi di jembatan yang sama, salah satunya berusaha menolong seorang pria yang tergeletak sementara teriakan "dia mati!" memecah udara.
Ahmed al Ahmed, Penjual Buah yang Jadi Pahlawan
Ahmed, sang penjual buah dan ayah dua anak, masih terbaring di rumah sakit. Keluarganya mengatakan kepada 7News Australia bahwa dia baru saja menjalani operasi untuk luka tembak di lengan dan tangan.
Sepupunya, Mustafa, tak sungkan menyematkan gelar pahlawan. "Dia pahlawan, 100%. Dia kena dua peluru, satu di lengan, satu di tangan," ujarnya pada Minggu malam.
Perkembangan terbaru pada Senin dini hari, Mustafa menambahkan, "Saya harap dia baik-baik saja. Saya menjenguknya tadi malam. Keadaannya cukup baik, tapi kami masih nunggu info dari dokter."
Aksi Nekat yang Menyelamatkan Nyawa
Rekaman video menunjukkan aksi Ahmed yang nyaris tak masuk akal. Dia awalnya bersembunyi di balik mobil parkir. Lalu, dengan gerakan cepat, dia melompat ke arah penyerang dan menjatuhkannya.
Senjata api berhasil direbut. Ahmed mendorong pelaku ke tanah, lalu mengarahkan senjata itu ke si pelaku. Penyerang itu pun mundur ke jembatan.
Ahmed kemudian menurunkan senjata dan mengangkat satu tangannya, tanda pada polisi bahwa dia bukan bagian dari para penembak. Tapi situasi belum aman. Pelaku yang sama muncul lagi di jembatan dengan senjata lain dan kembali menembak. Seorang pria bersenjata lain juga masih aktif di lokasi yang sama. Sasaran mereka masih belum jelas.
Daftar Korban yang Terus Bertambah
Korban jiwa resmi masih lima belas orang, termasuk gadis 10 tahun tadi. Usia korban berkisar dari 10 hingga 87 tahun. Detail lain belum diungkap.
Keluarga Rabbi Eli Schlanger (41) mengonfirmasi dia adalah salah satu korban. Sepupunya, Rabbi Zalman Lewis, mengenangnya sebagai pribadi yang "ceria, energik, penuh semangat, dan sangat suka menolong."
Media Israel melaporkan satu warga negara Israel tewas. Sementara warga Prancis, Dan Elkayam, juga telah diidentifikasi sebagai korban. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Nol Barrot menyampaikan duka mendalam lewat X.
Menteri Kesehatan NSW Ryan Park menyebut beberapa korban luka dalam kondisi "kritis dan serius". Empat anak telah dipindahkan ke Rumah Sakit Anak Sydney. Dua petugas polisi juga terkena tembakan dan sempat dalam kondisi "mendekati kritis".
Izin Senjata yang Jadi Pertanyaan
Komisaris Polisi NSW Mal Lanyon dalam konferensi pers Senin pagi memberi penjelasan mengejutkan. Pelaku berusia 50 tahun itu ternyata pemegang izin senjata api legal lisensi kategori AB untuk berburu.
Enam senjata api yang terdaftar atas namanya diduga digunakan dalam serangan ini. "Registri senjata api melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kelayakan pemegang izin," kata Lanyon, membela proses pemberian izin.
Di NSW, izin berburu bisa diberikan untuk alasan 'rekreasi atau konsumsi pribadi'. Rupanya, celah inilah yang mungkin dimanfaatkan.
Gelombang Reaksi dan Janji Perketat Aturan
Zona larangan masih diterapkan di sekitar TKP. Polisi bahkan menggunakan peralatan khusus untuk memeriksa alat peledak improvisasi (IED) yang ditemukan di mobil terkait pelaku.
PM Albanese kembali berpidato, menyebut penembakan ini "tindakan antisemitisme yang jahat". Presiden Israel Isaac Herzog menyatakan ini "serangan kejam terhadap orang Yahudi". Raja Charles III pun menyatakan rasa terkejut dan sedihnya.
Namun di luar ungkapan duka, ada langkah konkret yang dijanjikan. Albanese mengatakan akan mengajukan penguatan undang-undang senjata api dalam rapat kabinet nasional. "Izin tidak seharusnya berlaku seumur hidup," tegasnya. "Keadaan seseorang bisa berubah. Mereka bisa terradikalisasi seiring waktu."
Ini jadi pernyataan penting. Australia sering dibanggakan memiliki aturan senjata api yang ketat, terutama setelah tragedi Port Arthur 1996. Undang-undang mewajibkan setiap senjata dan pemiliknya terdaftar. Tapi insiden Bondi mempertanyakan efektivitas sistem itu.
Hanukkah yang Berakhir Kelam
Hanukkah, festival cahaya Yahudi yang seharusnya penuh sukacita, ternoda darah. Acara "Chanuka by the Sea 2025" yang diadakan Chabad of Bondi direncanakan sebagai perayaan untuk semua usia. Sekitar seribu orang hadir. Pamflet digitalnya masih menunjukkan janji hiburan dan kegembiraan, sebelum semuanya berubah jadi tragedi.
Laporan ini akan diperbarui jika ada perkembangan baru.
Artikel Terkait
Archworks X UPJ Ubah Stigma Arsitektur Elitis Lewat Festival Interaktif di Bintaro
Rupiah Tembus Rp17.424 per Dolar AS, Pemerintah Sebut Tekanan Akibat Faktor Global dan Musiman
Rusia Hantam Zaporizhzhia, 12 Tewas Setelah Gencatan Senjata Sepihak
Dishub Surabaya Ancam Cabut KTA Juru Parkir yang Masih Terima Pembayaran Tunai