Harga minyak dunia tiba-tiba melonjak. Pada Kamis kemarin, sentimen pasar diguncang oleh satu kekhawatiran besar: apa jadinya pasokan global jika Amerika Serikat benar-benar menyerang Iran? Akibatnya, kedua patokan minyak utama dunia meroket sekitar 3 persen, mencapai level tertinggi yang belum pernah mereka sentuh dalam lima bulan terakhir.
Brent, minyak acuan internasional, naik 3,4 persen ke USD70,71 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat sedikit lebih kuat, 3,5 persen, menjadi USD65,42 per barel. Kenaikan tajam ini bahkan mendorong keduanya masuk ke wilayah jenuh beli jika dilihat dari analisis teknikal. Bisa dibilang, ini adalah penutupan tertinggi untuk Brent sejak akhir Juli, dan untuk WTI sejak akhir September.
Lalu, apa pemicu utamanya? Semuanya berpusat pada rumor dan laporan tentang rencana Washington. Presiden Donald Trump disebut-sebut sedang mempertimbangkan opsi serangan terbatas ke Iran. Targetnya adalah aparat keamanan dan para pemimpin di sana, dengan harapan bisa memicu gelombang protes dari dalam.
“Kekhawatiran pasar yang paling langsung adalah dampak lanjutan jika Iran membalas,” ujar John Evans, analis dari PVM.
Ia menambahkan, skenario terburuknya adalah Teheran menutup Selat Hormuz. Itu adalah mimpi buruk bagi pasokan energi global, mengingat sekitar 20 juta barel minyak melewati selat sempit itu setiap harinya.
Memang, langkah AS ini dianggap tidak akan cukup untuk menjatuhkan rezim di Teheran, setidaknya menurut penilaian sejumlah pejabat Israel dan Arab. Namun begitu, ketegangan saja sudah cukup membuat pasar gugup. Apalagi, Iran bukan produsen sembarangan. Data AS mencatat, negara itu adalah penghasil minyak terbesar ketiga di OPEC.
Di sisi lain, respons dari lapangan di Iran justru makin memanas. Aparat keamanan dilaporkan melakukan penangkapan massal untuk mencegah aksi protes meluas. Dua sumber AS yang mengetahui pembahasan ini mengatakan tujuan Trump sebenarnya adalah menciptakan kondisi untuk “perubahan rezim”, menyusul penindasan protes awal bulan yang menewaskan ribuan orang.
Uni Eropa pun ikut bergerak. Mereka mengadopsi sanksi baru yang menargetkan individu terkait penindasan, dan secara terpisah menetapkan Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris. Tekanan terhadap Teheran kian bertumpuk.
“Potensi Iran menjadi sasaran serangan telah meningkatkan premi geopolitik dalam harga minyak,” tulis analis Citi dalam sebuah catatan. Singkatnya, investor sekarang membayar lebih untuk risiko yang tiba-tiba membesar.
Namun, ceritanya tidak hanya tentang Timur Tengah. Dari kawasan lain, ada faktor yang justru berpotensi menekan harga. Kremlin menyatakan kembali mengundang Presiden Ukraina Zelensky ke Moskow untuk berdamai. Perdamaian yang memungkinkan Rusia produsen minyak terbesar ketiga dunia mengekspor lebih banyak, berpotensi membanjiri pasar.
Perkembangan lain datang dari Kazakhstan. Pemerintahnya mengatakan Chevron akan berupaya mengembalikan produksi penuh di ladang raksasa Tengiz dalam seminggu. Gangguan sebelumnya sempat menyedot pasokan dari pasar.
“Gangguan di Kazakhstan telah menghilangkan jumlah barel yang signifikan dari pasar,” kata Giovanni Staunovo, analis UBS.
Sementara itu, di dalam negeri AS sendiri, produksi minyak mentah perlahan pulih setelah diterpa badai musim dingin yang parah. Faktor pendorong lain datang dari nilai tukar. Dolar AS melemah ke level terendah dalam dua tahun, dan ini cenderung menyokong harga minyak karena barang berdenominasi dolar jadi lebih murah bagi pembeli luar.
Federal Reserve juga memberi sinyal yang lebih tenang soal inflasi, yang ditafsirkan pasar sebagai indikasi suku bunga akan bertahan lama. Logikanya, suku bunga rendah bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan, pada akhirnya, permintaan minyak.
Analis juga mencatat fenomena menarik: selisih harga antara Brent dan WTI melebar hingga USD5,30 per barel, yang tertinggi sejak pertengahan 2024. Ketika selisihnya melewati angka USD4, biasanya secara ekonomi jadi masuk akal bagi perusahaan energi AS untuk meningkatkan ekspor minyak mereka. Itu bisa jadi penyeimbang di kemudian hari.
Jadi, pasar sekarang terjepit di antara dua kekuatan besar: ketakutan akan gangguan pasokan dari geopolitik yang panas, dan harapan akan tambahan pasokan dari perkembangan di tempat lain. Untuk sekarang, ketakutan itu yang menang.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020