Ketegangan AS-Iran Pacu Harga Minyak ke Level Tertinggi 5 Bulan

- Jumat, 30 Januari 2026 | 08:00 WIB
Ketegangan AS-Iran Pacu Harga Minyak ke Level Tertinggi 5 Bulan

Harga minyak dunia tiba-tiba melonjak. Pada Kamis kemarin, sentimen pasar diguncang oleh satu kekhawatiran besar: apa jadinya pasokan global jika Amerika Serikat benar-benar menyerang Iran? Akibatnya, kedua patokan minyak utama dunia meroket sekitar 3 persen, mencapai level tertinggi yang belum pernah mereka sentuh dalam lima bulan terakhir.

Brent, minyak acuan internasional, naik 3,4 persen ke USD70,71 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat sedikit lebih kuat, 3,5 persen, menjadi USD65,42 per barel. Kenaikan tajam ini bahkan mendorong keduanya masuk ke wilayah jenuh beli jika dilihat dari analisis teknikal. Bisa dibilang, ini adalah penutupan tertinggi untuk Brent sejak akhir Juli, dan untuk WTI sejak akhir September.

Lalu, apa pemicu utamanya? Semuanya berpusat pada rumor dan laporan tentang rencana Washington. Presiden Donald Trump disebut-sebut sedang mempertimbangkan opsi serangan terbatas ke Iran. Targetnya adalah aparat keamanan dan para pemimpin di sana, dengan harapan bisa memicu gelombang protes dari dalam.

“Kekhawatiran pasar yang paling langsung adalah dampak lanjutan jika Iran membalas,” ujar John Evans, analis dari PVM.

Ia menambahkan, skenario terburuknya adalah Teheran menutup Selat Hormuz. Itu adalah mimpi buruk bagi pasokan energi global, mengingat sekitar 20 juta barel minyak melewati selat sempit itu setiap harinya.

Memang, langkah AS ini dianggap tidak akan cukup untuk menjatuhkan rezim di Teheran, setidaknya menurut penilaian sejumlah pejabat Israel dan Arab. Namun begitu, ketegangan saja sudah cukup membuat pasar gugup. Apalagi, Iran bukan produsen sembarangan. Data AS mencatat, negara itu adalah penghasil minyak terbesar ketiga di OPEC.

Di sisi lain, respons dari lapangan di Iran justru makin memanas. Aparat keamanan dilaporkan melakukan penangkapan massal untuk mencegah aksi protes meluas. Dua sumber AS yang mengetahui pembahasan ini mengatakan tujuan Trump sebenarnya adalah menciptakan kondisi untuk “perubahan rezim”, menyusul penindasan protes awal bulan yang menewaskan ribuan orang.

Uni Eropa pun ikut bergerak. Mereka mengadopsi sanksi baru yang menargetkan individu terkait penindasan, dan secara terpisah menetapkan Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris. Tekanan terhadap Teheran kian bertumpuk.


Halaman:

Komentar