“Potensi Iran menjadi sasaran serangan telah meningkatkan premi geopolitik dalam harga minyak,” tulis analis Citi dalam sebuah catatan. Singkatnya, investor sekarang membayar lebih untuk risiko yang tiba-tiba membesar.
Namun, ceritanya tidak hanya tentang Timur Tengah. Dari kawasan lain, ada faktor yang justru berpotensi menekan harga. Kremlin menyatakan kembali mengundang Presiden Ukraina Zelensky ke Moskow untuk berdamai. Perdamaian yang memungkinkan Rusia produsen minyak terbesar ketiga dunia mengekspor lebih banyak, berpotensi membanjiri pasar.
Perkembangan lain datang dari Kazakhstan. Pemerintahnya mengatakan Chevron akan berupaya mengembalikan produksi penuh di ladang raksasa Tengiz dalam seminggu. Gangguan sebelumnya sempat menyedot pasokan dari pasar.
“Gangguan di Kazakhstan telah menghilangkan jumlah barel yang signifikan dari pasar,” kata Giovanni Staunovo, analis UBS.
Sementara itu, di dalam negeri AS sendiri, produksi minyak mentah perlahan pulih setelah diterpa badai musim dingin yang parah. Faktor pendorong lain datang dari nilai tukar. Dolar AS melemah ke level terendah dalam dua tahun, dan ini cenderung menyokong harga minyak karena barang berdenominasi dolar jadi lebih murah bagi pembeli luar.
Federal Reserve juga memberi sinyal yang lebih tenang soal inflasi, yang ditafsirkan pasar sebagai indikasi suku bunga akan bertahan lama. Logikanya, suku bunga rendah bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan, pada akhirnya, permintaan minyak.
Analis juga mencatat fenomena menarik: selisih harga antara Brent dan WTI melebar hingga USD5,30 per barel, yang tertinggi sejak pertengahan 2024. Ketika selisihnya melewati angka USD4, biasanya secara ekonomi jadi masuk akal bagi perusahaan energi AS untuk meningkatkan ekspor minyak mereka. Itu bisa jadi penyeimbang di kemudian hari.
Jadi, pasar sekarang terjepit di antara dua kekuatan besar: ketakutan akan gangguan pasokan dari geopolitik yang panas, dan harapan akan tambahan pasokan dari perkembangan di tempat lain. Untuk sekarang, ketakutan itu yang menang.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Anjlok Rp48 Ribu per Gram di Akhir Pekan
Iman Rachman Pamit dari Pucuk BEI di Tengah Gejolak Pasar
IHSG Melonjak 1,12% di Tengah Kejutan Mundurnya Dirut BEI
DSSA Pecah Saham, Harga Rp94 Ribu Bakal Ditekan ke Rp3.750