30 Ton Bantuan Terbang ke Sumatera dan Aceh, Kolaborasi Massal Jawab Darurat Banjir

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 11:05 WIB
30 Ton Bantuan Terbang ke Sumatera dan Aceh, Kolaborasi Massal Jawab Darurat Banjir

Dua pesawat kargo dipenuhi muatan bantuan, akhirnya lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma kemarin. Tujuannya: Sumatera dan Aceh, wilayah yang masih berjuang melawan dampak banjir. ParagonCorp, bersama Kitabisa, Salam Setara, dan Baitul Maal Merapi Merbabu (BM3), memberangkatkan sekitar 30 ton barang bantuan melalui Armada Kemanusiaan Peduli Bencana Sumatera.

Ini bukan kerja satu dua orang. Upaya besar ini terangkai dari gabungan 30 lebih galang dana yang digerakkan influencer, komunitas, hingga public figure di platform Kitabisa. Salah satunya, galang dana Ferry Irwandi, yang akan menyusul pada tahap distribusi berikutnya. Kolaborasinya juga melibatkan ustaz Salim Fillah dan sejumlah organisasi kemanusiaan lain.

Ustaz Salim Fillah, dalam keterangannya di Sabtu (13/12/2025), menekankan pentingnya kebersamaan.

"Atas izin Allah, kami berkolaborasi bersama lembaga kemanusiaan, korporasi, akademisi, dan musisi yang mewakili masyarakat Indonesia. Sebab bencana ini terlalu berat, kita perlu bersama-sama mengatasinya. Semua pihak memiliki peran kunci," ujarnya.

Nah, kedua pesawat itu punya rute berbeda. Yang pertama menuju Aceh. Muatannya beragam, mulai dari makanan siap saji, genset, perangkat Starlink, hingga paket filter air dan perlengkapan sanitasi. Bantuan ini nantinya akan dikelola BM3 untuk disalurkan ke Takengon, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah.

Sementara pesawat kedua mengarah ke Medan. Selain makanan siap saji dan bubur bayi, ada 500 paket container box 30 liter serta produk-produk sanitasi dari ParagonCorp. Daerah sasaran penyalurannya meliputi Langkat, Tapanuli, dan Aceh Tamiang.

Astri Wahyuni dari Corporate Affairs ParagonCorp menjelaskan peran perusahaan mereka. "ParagonCorp ikut mendukung dengan menyumbang charter pesawat kargo yang membawa bantuan tersebut," katanya.

Ia menambahkan, komunikasi intens dengan para mitra seperti Kitabisa mengungkap kebutuhan mendesak saat ini: transportasi untuk mengangkut bantuan dari Jakarta ke lokasi. "Harapan kami, kolaborasi ini dapat terus berlanjut. Ini tidak berhenti sampai di sini," tegas Astri.

Di sisi lain, Ahmad Mujahid, Executive Director Salam Setara yang mewakili ekosistem Kitabisa, menyampaikan harapan sederhana.

"Mohon doanya semoga bantuan yang kita terbangkan hari ini dapat diterima keluarga-keluarga yang membutuhkan di Sumatera," kata Ahmad.

Pelepasan pesawat kemarin juga dihadiri sejumlah public figure yang aktif menggalang donasi, plus perwakilan mitra seperti Rumah Zakat, IA ITB, dan komunitas PAPMM-IPB. Sinergi seperti ini diharapkan tak putus, terutama saat masuk fase pemulihan nanti.

Memasuki pekan kedua, suasana di lokasi bencana masih suram. Banjir bandang dan longsor telah meninggalkan luka yang dalam. Bantuan sebenarnya sudah didistribusikan sejak 12 hari pasca-bencana, namun pengiriman tetap dilakukan bertahap. Pasalnya, galang dana dari berbagai kalangan masih terus mengalir melalui Kitabisa.

Data terbaru BNPB per 11 Desember 2025 menggambarkan betapa dahsyatnya musibah ini. Di Aceh, Sumut, dan Sumbar, tercatat 52 kabupaten terdampak. Rumah yang rusak mencapai 157 ribu, fasilitas umum yang terdampak lebih dari 2.000. Korban jiwa pun tak sedikit: 990 meninggal, 225 hilang, dan lebih dari 5.000 orang luka-luka. Angka-angka itu menyimpan banyak cerita pilu yang butuh uluran tangan lebih lama lagi.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar