Di sisi lain, Dimyati punya perhatian khusus pada kelompok penerima. Ia menekankan bahwa bantuan sosial ini sebaiknya diutamakan untuk perempuan, khususnya ibu-ibu. Alasannya cukup personal dan mendasar.
“Saya juga sudah sampaikan, mayoritas bantuan ini harus diberikan kepada ibu-ibu. Kalau bisa 95 persen, atau minimal 90 persen,” katanya.
“Kenapa? Karena kalau terjadi sesuatu pada suaminya, misalnya kecelakaan, cacat, atau meninggal dunia, ibu-ibunya sudah siap.”
Sementara itu, dari pihak Bank Banten, Komisaris Nonindependen Rina Dewiyanti yang hadir mendampingi membeberkan rincian angka. Penerima bantuan UEP tahun ini mencapai 2.450 orang, dan dananya bersumber dari APBD Provinsi Banten.
Tapi UEP bukan satu-satunya. Masih ada lagi bantuan lain yang digelontorkan. Ada Jaminan Sosial Keluarga untuk 37.741 keluarga, dengan nilai Rp 500 ribu per keluarga. Totalnya mencapai Rp 18,87 miliar.
Lalu, Dinas Sosial juga menyalurkan bansos untuk anak terlantar dan penyandang disabilitas. Sekitar 600 orang mendapat Rp 500 ribu masing-masing, atau total Rp 300 juta. Tidak ketinggalan, bantuan untuk lansia menyentuh 1.000 orang dengan nilai Rp 2 juta per orang. Ada pula Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang menyasar 378 anak stunting.
Kalau dijumlahkan semuanya, angka totalnya cukup besar. “Total bantuan sosial tahun 2025 mencapai sekitar Rp 24,3 miliar,” pungkas Rina menutup penjelasannya.
Artikel Terkait
Denise Chariesta Umumkan Rencana Bayi Tabung sebagai Single Parent
Ekonomi Surabaya Tumbuh 5,87%, Lampaui Capaian Jatim dan Nasional
Portal Pandemi Masih Tertutup, Warga dan Siswa di Rungkut Menanggal Kesulitan Akses
Presiden Prabowo Tegaskan Batas Defisit APBN 3% Tak Akan Diubah