BMKG: Hujan Lebat hingga Gelombang Tinggi Mengintai Hingga Januari 2026

- Kamis, 11 Desember 2025 | 08:45 WIB
BMKG: Hujan Lebat hingga Gelombang Tinggi Mengintai Hingga Januari 2026

Hingga Januari 2026 mendatang, sejumlah wilayah di Indonesia perlu bersiap. Curah hujan tinggi hingga sangat tinggi masih mengintai. Prediksi ini disampaikan BMKG dalam rapat persiapan libur Natal dan Tahun Baru, yang menyoroti dinamika atmosfer dan risiko hidrometeorologi yang mengikutinya.

Menurut Guswanto, Plt. Sekretaris Utama BMKG, puncak musim hujan memang akan berlangsung dari Desember hingga Januari. Kondisi ini bakal memicu hujan lebat di beberapa daerah.

“Yang perlu diwaspadai adalah tingginya intensitas hujan, angin kencang, gelombang tinggi, serta potensi dampak tidak langsung dari bibit siklon tropis. Kondisi ini dapat memengaruhi aktivitas transportasi darat, laut, dan udara selama Nataru,” katanya.

Daerah yang perlu waspada antara lain Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Papua Selatan, dan sebagian besar Kalimantan.

Nah, untuk periode liburan sendiri, BMKG membagi peta dinamika cuaca dalam tiga fase. Fase pertama, 15-22 Desember, didominasi hujan lebat. Lalu, 22-29 Desember, intensitasnya cenderung menurun. Namun begitu, kita harus kembali siaga pada 29 Desember hingga 10 Januari, karena hujan akan meningkat lagi seiring pergeseran puncak musim hujan ke Pulau Jawa.

Fenomena Atmosfer yang Rumit

Situasinya jadi makin kompleks karena sejumlah fenomena atmosfer diprediksi aktif bersamaan. Ada pengaruh Monsun Asia, Madden Julian Oscillation (MJO), ditambah gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby. La Niña dalam kondisi lemah juga turut bermain. Belum lagi kemunculan bibit siklon tropis 93W dan 91S yang bisa memperkuat hujan dan angin kencang di berbagai tempat.

Waspada Awan Cumulonimbus untuk Penerbangan

Bicara transportasi udara, ancaman pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) tetap jadi perhatian serius. Awan ini bisa memicu hujan dengan intensitas yang luar biasa. Tapi mitigasinya sudah dijalankan sejak awal.

“Semua pilot sudah mengambil flight document dari website-nya BMKG secara resmi, sehingga harapannya tidak memberikan dampak yang lebih buruk. Jadi artinya BMKG juga telah memberikan langkah untuk mitigasinya,” jelas Guswanto.

Laut Bergelora dan Ancaman Rob

Di sektor pelayaran, kondisi juga tidak mudah. Sebagian perairan diperkirakan diguncang gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter. Bahkan di area dekat Natuna, gelombang bisa melampaui 6 meter pada bulan Januari nanti.

BMKG juga memberikan peringatan dini potensi banjir rob, berdasarkan fase bulan, untuk berbagai pesisir di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku. Untuk daerah yang sudah kerap terdampak seperti Pontianak, informasi diperkuat untuk mendukung respons lebih cepat dari pemda setempat.

Siaga Modifikasi Cuaca

Sebagai langkah nyata, BMKG bersama BNPB, pemerintah daerah, dan BUMN menyiagakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi ini difokuskan di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Tujuannya jelas: mengurangi intensitas hujan di wilayah berisiko tinggi. Meski begitu, ada batasan teknis yang harus diperhatikan, terutama jika pengaruh siklon tropis sedang aktif.

Layanan informasi juga diperkuat. Masyarakat dan pemangku kepentingan bisa mengakses info cuaca real-time lewat berbagai kanal seperti InfoBMKG, Digital Weather for Traffic BMKG untuk transportasi darat, Ina-SIAM untuk penerbangan, dan InaWIS untuk pelayaran. Data satelitnya diperbarui setiap 10 menit, jadi cukup akurat untuk jadi bahan pertimbangan.

“BMKG berkomitmen memberikan informasi cuaca terkini, peringatan dini yang tepat waktu, serta dukungan teknis kepada seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keselamatan masyarakat selama periode Nataru,” pungkas Guswanto.

Intinya, periode akhir tahun hingga awal tahun depan membutuhkan kewaspadaan ekstra. Informasi dari BMKG ini diharapkan bisa jadi panduan bagi semua pihak untuk bersiap, agar musim hujan ini bisa dilalui dengan lebih aman dan tertib.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar