Di acara Anugerah Dewan Pers 2025, Jusuf Kalla bercerita dengan riang. Suasana di Balai Kota Jakarta, Rabu lalu, cukup hangat. Mantan Wakil Presiden itu membuka sedikit lembaran kenangan politiknya, yang ternyata menyimpan momen lucu dan penuh kejutan.
JK mengisahkan, suatu hari ia dapat undangan spesial. Megawati Soekarnoputri mengajaknya makan siang, hanya berdua. Nah, dalam benaknya, mantan ketua umum Partai Golkar ini sudah menyiapkan sebuah dugaan. Ia mengira pertemuan empat mata itu adalah ajakan untuk mendampingi Megawati sebagai calon wakil presiden.
"Saya menunggu kata-kata itu. Jawabannya sudah siap, bersedia," ujarnya.
Tapi, selang satu jam mereka makan bersama, pembicaraan serius itu tak kunjung muncul. Topiknya kemana-mana, kecuali soal pencalonan. JK pun hanya bisa menahan diri.
"Tapi karena tidak ada pertanyaan selama satu jam, terpaksa kata 'bersedia' saya tahan," candanya, disambut gelak tawa seluruh hadirin.
Ceritanya tak berhenti di situ. Baru saja acara makan siang itu usai, teleponnya berdering. Di seberang garis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menelepon. SBY-lah yang justru menawarinya posisi cawapres. Tanpa pikir panjang lagi, JK langsung bilang iya.
Namun begitu, beberapa tokoh kemudian mendatanginya. Mereka meminta agar ia membatalkan kesepakatan dengan SBY itu. Tapi JK ogah. Ia bahkan meminta kesepakatan dengan presiden keenam RI itu untuk dituangkan dalam bentuk tertulis. Komitmennya sudah bulat.
"Waduh saya sudah janji (sama SBY)," katanya sambil tersenyum.
Dari cerita singkat itu, kita bisa menangkap sebuah kesan. Dunia politik memang penwith kejutan. Siapa sangka, dari sebuah makan siang yang penwith teka-teki, justru berujung pada keputusan besar di tempat dan dengan orang yang tak terduga. JK pun seolah menggarisbawahi, bahwa kadang jalan yang kita kira akan dilalui, justru berbelok ke arah yang sama sekali berbeda.
Artikel Terkait
Shareefa Daanish Akui Penakut, Justru Puasa Bisa Menakut-nakuti Penonton di Film Horor Cerita Lila
BPS: Milenial dan Gen Z Dominasi 10,72 Juta Penduduk Jakarta
Kemacetan Parah Landa Akses KBN Marunda Cilincing Akibat Lonjakan Volume Kendaraan
Enam Konglomerat Asia Tenggara Kuasai Kekayaan Rp 2.194 Triliun, Pham Nhat Vuong Teratas