Makan Siang dengan Megawati, Tawaran Cawapres Justru dari SBY: Kisah Tak Terduga Jusuf Kalla

- Kamis, 11 Desember 2025 | 00:00 WIB
Makan Siang dengan Megawati, Tawaran Cawapres Justru dari SBY: Kisah Tak Terduga Jusuf Kalla

Di acara Anugerah Dewan Pers 2025, Jusuf Kalla bercerita dengan riang. Suasana di Balai Kota Jakarta, Rabu lalu, cukup hangat. Mantan Wakil Presiden itu membuka sedikit lembaran kenangan politiknya, yang ternyata menyimpan momen lucu dan penuh kejutan.

JK mengisahkan, suatu hari ia dapat undangan spesial. Megawati Soekarnoputri mengajaknya makan siang, hanya berdua. Nah, dalam benaknya, mantan ketua umum Partai Golkar ini sudah menyiapkan sebuah dugaan. Ia mengira pertemuan empat mata itu adalah ajakan untuk mendampingi Megawati sebagai calon wakil presiden.

"Saya menunggu kata-kata itu. Jawabannya sudah siap, bersedia," ujarnya.

Tapi, selang satu jam mereka makan bersama, pembicaraan serius itu tak kunjung muncul. Topiknya kemana-mana, kecuali soal pencalonan. JK pun hanya bisa menahan diri.

"Tapi karena tidak ada pertanyaan selama satu jam, terpaksa kata 'bersedia' saya tahan," candanya, disambut gelak tawa seluruh hadirin.

Ceritanya tak berhenti di situ. Baru saja acara makan siang itu usai, teleponnya berdering. Di seberang garis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menelepon. SBY-lah yang justru menawarinya posisi cawapres. Tanpa pikir panjang lagi, JK langsung bilang iya.

Namun begitu, beberapa tokoh kemudian mendatanginya. Mereka meminta agar ia membatalkan kesepakatan dengan SBY itu. Tapi JK ogah. Ia bahkan meminta kesepakatan dengan presiden keenam RI itu untuk dituangkan dalam bentuk tertulis. Komitmennya sudah bulat.

"Waduh saya sudah janji (sama SBY)," katanya sambil tersenyum.

Dari cerita singkat itu, kita bisa menangkap sebuah kesan. Dunia politik memang penwith kejutan. Siapa sangka, dari sebuah makan siang yang penwith teka-teki, justru berujung pada keputusan besar di tempat dan dengan orang yang tak terduga. JK pun seolah menggarisbawahi, bahwa kadang jalan yang kita kira akan dilalui, justru berbelok ke arah yang sama sekali berbeda.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar