Zulfa mengakui, hadirin yang datang sangat banyak dan beragam, termasuk perwakilan PWNU. Ia mengaku tak bisa menyebut satu per satu. Namun, dari kerumunan itu, ada satu tekad yang sama: persatuan.
“Ini menunjukkan... bahwa kami semua bertekad, bertekad sungguh-sungguh untuk bersatu. Untuk melanjutkan khidmah Jam'iyah di abad keduanya,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Zulfa menyampaikan janji untuk memikul amanah barunya dengan penuh kehati-hatian. Nada bicaranya rendah, namun terdengar jelas.
“Saya akan, saya berjanji, saya akan menjalankan amanah ini seadil-adilnya, sebersih-bersihnya, seikhlas-ikhlasnya, dan sesantun-santunnya menjaga keadaban sebagai santri.”
Ia menutup dengan merendah. “Karena Tanfidziyah adalah santri. Saya bukan siapa-siapa, saya santri daripada Rais Aam, dan juga santri Syuriyah PBNU.”
Artikel Terkait
Gen Z Buka Suara di Senayan: Dari Lapangan Kerja hingga Krisis Iklim
Pusat dan Daerah Rapat di Sentul, Pacu Program Prioritas Menuju Indonesia Emas
Kearifan Lokal dan Peran Daerah: Kunci Tangkal Bencana Ekologi
Mundur Tiga Pimpinan Pasar Modal, DPR Soroti Perbaikan Aturan Free Float