Gen Z Buka Suara di Senayan: Dari Lapangan Kerja hingga Krisis Iklim

- Jumat, 30 Januari 2026 | 21:50 WIB
Gen Z Buka Suara di Senayan: Dari Lapangan Kerja hingga Krisis Iklim

Suasana di Gedung MPR RI kemarin cukup berbeda. Wakil Ketua MPR dari PAN, Eddy Soeparno, duduk santai berhadapan dengan lebih dari dua ratus anak muda Gen Z. Acara townhall meeting itu digelar bareng organisasi Dewan Kita, dan nuansanya jauh dari formalitas kaku biasa.

Forumnya berlangsung interaktif banget. Para peserta, mewakili suara generasinya, menyampaikan uneg-uneg dan harapan. Isu yang mereka angkat beragam, mulai dari yang paling mendasar sampai yang paling kompleks. Mereka bicara soal susahnya cari kerja yang layak, jaminan hidup yang manusiawi, sampai kekhawatiran mendalam terhadap kondisi lingkungan dan perubahan iklim. Tak ketinggalan, hal-hal yang akrab di keseharian mereka juga mengemuka: akses pendidikan, pentingnya kesehatan mental, peluang buka usaha, sampai wacana ekonomi hijau yang lagi tren.

Buat Eddy, semua aspirasi yang meluncur deras itu bukan sekadar masukan biasa. Menurutnya, keterlibatan dan suara anak muda, khususnya Gen Z, adalah fondasi penting. Fondasi untuk merumuskan kebijakan publik yang tepat sasaran dan ga ketinggalan zaman.

"Town hall meeting ini adalah cara kami mendengar langsung tanpa sekat aspirasi anak-anak muda. Town hall ini juga menjadi saluran bagi anak muda untuk menyampaikan aspirasinya dalam kebijakan publik. Kami percaya anak muda harus menjadi bagian dan terlibat dalam perumusan kebijakan,"

Begitu penjelasan Eddy dalam keterangannya, Jumat (30/1/2026).

Nah, dari sekian banyak isu, soal ketenagakerjaan jadi sorotan utama. Banyak peserta yang vokal menekankan perlunya lapangan kerja baru. Kerja yang relevan dengan perkembangan teknologi, transisi energi, dan tentu saja, pembangunan yang berkelanjutan. Mereka juga nyoroti hal-hal praktis: pentingnya jaminan sosial, upah yang layak, dan ekosistem kerja yang adil buat pekerja muda.

Di sisi lain, kekhawatiran akan krisis iklim dan kerusakan lingkungan juga disuarakan dengan lantang. Tuntutannya jelas: kebijakan pembangunan ke depan harus lebih berpihak pada keberlanjutan. Buat masa depan mereka dan generasi nanti.

Eddy sendiri melihat ada keselarasan. Aspirasi Gen Z soal lapangan kerja hijau itu, katanya, sejalan dengan inisiatif yang selama ini ia upayakan: mempercepat transisi energi dan pembangunan rendah karbon.

"Amanat pasal 33 UUD 1945 Ayat 4 menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus dilaksanakan seiring dengan asas keadilan sosial, keberlanjutan dan berwawasan lingkungan. Pembangunan ekonomi harusnya seiring sejalan dengan upaya menjaga dan merawat lingkungan dan penciptaan lapangan kerja bagi generasi muda,"

Lebih jauh ia menjabarkan, green jobs di sektor energi terbarukan, transportasi rendah emisi, pengelolaan sampah, sampai industri kreatif hijau, itu cocok banget dengan karakter Gen Z. Generasi yang adaptif teknologi, inovatif, dan punya kesadaran lingkungan tinggi.

Tapi ya, kebijakan menciptakan lapangan kerja hijau itu ga bisa berdiri sendiri. Harus dibarengi dengan pelatihan keterampilan yang memadai, perlindungan bagi tenaga kerja, dan jaminan penghidupan yang layak. Itu kunci utamanya.

"Tentu pemerintah harus hadir memastikan anak muda kita punya akses pada pendidikan vokasi, reskilling, dan upskilling agar untuk memastikan akses green jobs dapat terbuka untuk semua,"

Begitu ia menutup pembicaraan. Forum itu mungkin sudah berakhir, tapi percakapan panjang antara pembuat kebijakan dan generasi penerus tampaknya baru saja dimulai.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar