Darmawan menambahkan, timnya bergerak total. "All out tanpa mengenal waktu, tanpa mengenal batas, menembus medan apapun agar layanan kritis tetap berjalan," tegasnya.
Pemulihan tak hanya berhenti di rumah sakit. Tamiang Sport Center yang berfungsi sebagai posko pengungsian besar juga sudah teraliri listrik sejak Kamis kemarin. Dengan adanya penerangan, proses evakuasi dan pendataan warga jadi lebih lancar, distribusi logistik pun tak lagi terkendala gelap.
PLN juga memikirkan pasokan air bersih. Mereka mengoperasikan genset 33.000 watt dari Binjai untuk PDAM setempat. Berkat itu, kebutuhan air bersih masyarakat berhasil dinormalkan pada hari yang sama. Bahkan, untuk mendukung layanan pemerintahan, sebuah genset besar berkapasitas 100.000 watt sedang dalam perjalanan dari Banda Aceh menggunakan kapal POLRI, KP Wisanggeni.
Di lapangan, tantangan nyata terpampang. Jalan putus, banyak area terisolasi. Tapi menurut Eddi Saputra, General Manager PLN Unit Induk Wilayah Aceh, mereka tak punya pilihan selain terus maju.
"Kami tidak boleh berhenti. Fasilitas vital seperti rumah sakit, posko pengungsian, dan titik pelayanan masyarakat harus mendapatkan listrik terlebih dahulu," jelas Eddi.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada TNI dan POLRI. Bantuan mereka dalam mobilisasi peralatan di medan yang sulit disebutkannya sangat berarti. Dengan jaringan yang terus diperbaiki dan suplai darurat dari genset-genset itu, PLN berupaya agar masyarakat Aceh Tamiang punya cukup penerangan untuk melewati masa-masa terberat ini.
Artikel Terkait
Longboat Terbalik di Halmahera Selatan, Satu Tewas dan Satu Masih Hilang
Tebing Ambrol di Bogor, Rumah Tertimpa dan Mobil Tertimbun
Air Surut di Sejumlah Titik, Jakarta Barat Masih Berjuang Hadapi Genangan
Pemotor Ngamuk Tusuk Warga Usai Ditegur Merokok di Jalan