"Bencana memang tidak bisa kita cegah," ungkap Nusron di sela kegiatan, "tetapi cara kita meresponsnya akan menentukan seberapa cepat masyarakat bisa bangkit kembali. Di sini saya melihat semangat gotong royong yang sangat kuat, dan itu yang membuat saya optimistis."
Data sementara yang berhasil dihimpun cukup memilukan. Sebanyak 154 orang terdampak, dengan korban meninggal mencapai 29 jiwa. Delapan orang lainnya masih dicari. Kerusakan parah juga melanda puluhan rumah, lahan pertanian, dan fasilitas umum.
Selain menyerahkan bantuan, Nusron juga berkeliling meninjau lokasi. Dialog dengan warga terus ia lakukan, menampung keluhan mulai dari rumah yang hanyut hingga sawah yang hilang tertimbun material.
"Saya ingin memastikan bahwa bantuan ini tidak hanya simbolis," katanya dengan nada tegas.
"Kita harus benar-benar hadir dengan empati, mendengar jeritan warga, dan memastikan kebutuhan mereka terpenuhi. Inilah bukti bahwa negara hadir, terutama ketika masyarakat berada dalam masa paling sulit."
Program ATR/BPN Peduli Bencana sendiri adalah wujud nyata kepedulian sosial kementerian itu. Ia dijalankan lewat sinergi banyak pihak: pemerintah pusat dan daerah, lembaga keagamaan, hingga relawan. Kehadiran menteri di Agam mengirimkan pesan jelas bahwa pemulihan dan pendampingan pascabencana jadi prioritas utama. Di tengah suasana duka, setidaknya ada langkah konkret yang mencoba mengobati luka.
Artikel Terkait
Daan Mogot Tergenang, Lalu Lintas Jakarta Barat Lumpuh Pagi Ini
Genangan Air Belum Surut, 318 Warga Tangerang Mengungsi
Hutan yang Tersayat: Ketika Krisis Lingkungan Bermula dari Kekeringan Hati
Satgas Rebut Kembali 1.700 Hektare Lahan Tambang Ilegal di Hutan