Nusron Turun ke Agam, Dengarkan Jeritan Korban Banjir Bandang

- Minggu, 07 Desember 2025 | 16:55 WIB
Nusron Turun ke Agam, Dengarkan Jeritan Korban Banjir Bandang

Kabut tipis masih menyelimuti lereng bukit di Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam, ketika rombongan dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang tiba. Mereka datang membawa bantuan untuk warga yang porak-poranda diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu. Lewat program ATR/BPN Peduli Bencana, berbagai kebutuhan pokok disalurkan langsung ke lokasi terdampak.

Penyerahannya dipimpin langsung oleh Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid. Ia tak sendirian. Bersamanya, ada Wakil Ketua Umum MUI Marsudi Syuhud dan Kepala Kanwil BPN Sumbar, Teddi Guspriadi. Mereka turun ke Pos Layanan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) yang sejak hari pertama bencana jadi ujung tombak penanganan korban.

Suasana di sana masih terasa berat. Nusron pun menyempatkan diri berbincang dengan warga, mendengar satu per satu cerita mereka yang kehilangan keluarga. Raut wajahnya serius, menyimak kisah pilu di tengah sisa-sisa lumpur dan puing.

"Kami ingin memastikan bahwa masyarakat tidak menghadapi bencana ini sendirian," ujar Nusron.

"Kehadiran kami di tengah warga bukan sekadar formalitas, kami mendengarkan langsung jeritan warga karena kehilangan keluarga, ini adalah bentuk tanggung jawab dan solidaritas yang tidak bisa ditawar," tegasnya dalam keterangan tertulis, Minggu (7/12/2025).

Pernyataan itu disampaikannya sehari sebelumnya, Sabtu (6/12), saat menyerahkan bantuan. Isinya beragam, mulai dari bantal, selimut, paket makanan, sampai kebutuhan khusus untuk bayi dan anak-anak. Tak lupa perlengkapan ibadah, alat kebersihan, dan obat-obatan. Semua dikemas untuk membantu pemulihan awal mereka yang kehilangan rumah dan mata pencaharian.

Kolaborasi dengan MUI dalam penyaluran ini punya peran krusial. Sebagai mitra yang mengusulkan lokasi dan penghubung warga, mereka memastikan bantuan tepat sasaran. Menurut sejumlah saksi, sinergi semacam ini yang dibutuhkan di lapangan.

"Bencana memang tidak bisa kita cegah," ungkap Nusron di sela kegiatan, "tetapi cara kita meresponsnya akan menentukan seberapa cepat masyarakat bisa bangkit kembali. Di sini saya melihat semangat gotong royong yang sangat kuat, dan itu yang membuat saya optimistis."

Data sementara yang berhasil dihimpun cukup memilukan. Sebanyak 154 orang terdampak, dengan korban meninggal mencapai 29 jiwa. Delapan orang lainnya masih dicari. Kerusakan parah juga melanda puluhan rumah, lahan pertanian, dan fasilitas umum.

Selain menyerahkan bantuan, Nusron juga berkeliling meninjau lokasi. Dialog dengan warga terus ia lakukan, menampung keluhan mulai dari rumah yang hanyut hingga sawah yang hilang tertimbun material.

"Saya ingin memastikan bahwa bantuan ini tidak hanya simbolis," katanya dengan nada tegas.

"Kita harus benar-benar hadir dengan empati, mendengar jeritan warga, dan memastikan kebutuhan mereka terpenuhi. Inilah bukti bahwa negara hadir, terutama ketika masyarakat berada dalam masa paling sulit."

Program ATR/BPN Peduli Bencana sendiri adalah wujud nyata kepedulian sosial kementerian itu. Ia dijalankan lewat sinergi banyak pihak: pemerintah pusat dan daerah, lembaga keagamaan, hingga relawan. Kehadiran menteri di Agam mengirimkan pesan jelas bahwa pemulihan dan pendampingan pascabencana jadi prioritas utama. Di tengah suasana duka, setidaknya ada langkah konkret yang mencoba mengobati luka.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar