Untuk sekolah, anak-anak di panti ini bersekolah di sekolah negeri sekitar lokasi. Yang SD dan SMP bisa jalan kaki. Sedangkan yang SMA dan kuliah saat ini ada tiga orang harus naik transportasi. "Masih di sekitar Sorong juga, tidak terlalu jauh," sebutnya.
Namun begitu, kegiatan mereka tak cuma belajar formal. Ada juga program keagamaan yang jadi pondasi. "Program kami jelas, untuk membentuk pribadi yang mengenal Yesus, punya pendidikan baik, dan akhirnya punya masa depan yang cerah," ucap Chardes.
Mayoritas anak asuhnya adalah anak asli Papua. Bagi Chardes, ini adalah panggilan. "Komitmen kami sudah besar untuk peduli pada mereka. Makanya kami langsung terima tawaran mengelola ini, dan bertahan sampai sekarang," katanya dengan nada mantap.
Rupanya, kepedulian ini adalah warisan. Dia belajar langsung dari nenek dan ibunya. "Tergerak ya karena melihat contoh dari Nenek dan Mama. Sebagai anak, rasa peduli itu otomatis tumbuh. Apalagi melihat kondisi anak-anak ini, banyak yang yatim piatu dan punya kekurangan," jelasnya.
Dia juga punya concern khusus soal pendidikan di kampung-kampung Papua. Menurutnya, akses di sana masih sangat terbatas. "Gurunya sering tidak produktif. Makanya kami datangi kampung-kampung. Kalau ada orang tua yang mau anaknya disekolahkan di kota, kami ambil dan bina di sini," tutur Chardes.
Usahanya tak sia-sia. Dia bersyukur melihat anak-anak yang pernah dibinanya kini sukses berkarir. "Sudah ada sekitar 8 orang yang berhasil. Kebanyakan jadi tentara, PNS, dan guru," pungkasnya dengan bangga. Sebuah bukti bahwa dari Panti Sinar Kasih, harapan itu benar-benar bersinar.
Artikel Terkait
Sukamta Kecam Israel: Penghancuran Markas UNRWA Lukai Nurani Kemanusiaan
Hujan Deras Picu Antrean Panjang Transjakarta, Genangan 20 Cm Lumpuhkan Koridor 13
Korban Tambang Nanggung Bertambah, Asap CO Masih Diklaim Aman
Teguran soal Abu Rokok Berujung Tusukan Obeng di Jagakarsa