Usai rapat kerja yang tegang dengan Komisi IV DPR, Menteri Perhutanan Raja Juli Antoni angkat bicara. Ia merespons pernyataan anggota dewan Rahmat Saleh yang sebelumnya mengangkat contoh menteri Filipina yang mundur karena gagal tangani banjir. Soal itu, Raja Juli dengan tenang menyatakan kesiapannya untuk dievaluasi.
"Saya yakin, namanya kekuasaan itu milik Allah. Dan itu hak prerogatif presiden," ujarnya di Senayan, Kamis siang. "Jadi, saya siap dievaluasi."
Menurutnya, kritik dari mana pun, termasuk dari warganet di media sosialnya, tak pernah ia hapus. Ia memandang semua itu sebagai bagian dari dinamika yang harus diterima seorang pejabat.
"Saya katakan tadi, kritik netizen kepada saya, saya nggak pernah hapus ya," jelas Raja Juli. "Itu bagian dari aspirasi, kemarahan, atau bahkan harapan. Jadi monggo saja."
Di sisi lain, ia menegaskan fokusnya saat ini hanya satu: bekerja sekeras mungkin. Soal posisinya di kabinet, itu sepenuhnya wewenang Presiden Prabowo Subianto. "Tanggung jawab saya cuma kerja semaksimal mungkin. Selanjutnya, hak prerogatif Bapak Presiden," katanya.
Pernyataan sang menteri ini tak lepas dari kritik pedas yang dilontarkan Rahmat Saleh dalam rapat tadi. Anggota DPR dari PKS itu menyoroti korban jiwa akibat bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar yang angkanya terus merangkak naik. Ia geram.
Rahmat awalnya bicara soal perkebunan sawit yang merajalela di Sumatera. Hasil produksinya, katanya, nyatanya tak menyejahterakan warga setempat. Malah sebaliknya.
"Mereka sudah menikmati hasil puluhan tahun, menuai sawit di kawasan hutan. Sekarang hampir 2,3 juta penduduk merasakan dampak banjir, sementara mereka enak-enak tidur di Singapura. Kita tahu perusahaannya," ucap Rahmat dengan nada tinggi.
"Uangnya mereka keruk, masyarakat kini menikmati banjir. Jangan sampai mereka lihat kita menderita lalu tak dihukum," sambungnya.
Ia lalu menyebut data mentah: lebih dari 700 jiwa melayang di utara Pulau Sumatera. Bagi Rahmat, ini perkara serius. "Bapak Menteri, satu nyawa bagi kita sangat berharga. Sekarang hampir 765 meninggal, 650 belum ditemukan. Ini bencana besar. Bukan main-main."
Suasana rapat jelas memanas. Namun di luar ruangan, Raja Juli Antoni memilih bersikap lapang. Siap menerima apa pun keputusan nantinya.
Artikel Terkait
Rano Karno: Proses Hukum Mantan Kadis LH Terkait Longsor Bantargebang Konsekuensi yang Wajar
Kementan Perkuat Peran BUMN untuk Akselerasi Swasembada Gula
Ancol Tawarkan Diskon 87% Tiket Wahana Khusus Perempuan pada 26 April 2026
Kapolres Banyuasin Sambang Kamtibmas dan Salurkan Bansos di Air Kumbang